Find and Follow Us

Rabu, 19 Juni 2019 | 23:49 WIB

Ketika yang Paling Serius Tidak Diseriusi

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar | Senin, 3 Juni 2019 | 01:11 WIB
Ketika yang Paling Serius Tidak Diseriusi
(Foto: ilustrasi)

BENARKAH kita yakin bahwa Allah Taala yang menciptakan, menghidupkan dan memberikan rezeki pada kita? Benarkah kita yakin bahwa Allah yang menciptakan dan menguasai langit dan bumi? Kalau kita benar-benar yakin, sebesar atau sedalam apakah keyakinan tersebut? Mari kita evaluasi diri kita masing-masing.

Jika kita mengatakan bahwa keyakinan dan cinta kepada Allah harus total dan sedalam-dalamnya, karena Dialah Yang Maha Segalanya, itu artinya Allah adalah yang paling penting dalam hidup ini. Lalu,mengapa kita tidak serius kepada Allah hanya memberikan yang sisa dalam hidup?

Sehari-hari kita bersujud kepada Allah Taala hanya disisa waktu kesibukan. Kita bersedekah hanya dengan sisa yang jajan. Kita membaca Al-Quran hanya sisa membaca SMS, internet, majalah atau koran. Kita menyebut nama Allah Taala juga sisa dari menyebut-nyebut nama keluarga, kenalan maupun nama hewan peliharaan.

Hal yang lebih menyedihkan lagi, kita serius dan saling berlomba serta berbangga diri mempelajari ilmu komputer, akuntansi, bahas, matematika, biologi dan lainnya. Namun, ilmu tentang Allah tidak begitu serius dan penting bagi kita. Ilmu tentang Allah hanya sisa, yang seringkali sisa itu pun tidak kita sisakan.

Kita lebih sibuk pada uang dan orang, lebih mengurus pangkat dan gelar. DIbandung cinta kepada Allah, kita lebih cinta pada makhluk. Dibanding membuka Al-Quran kita lebih asik membuka medai sosial. Daripada berzikir kita lebih menikmati menginat dan mengenang makhluk yang ditaksir, bahkan kita sering terlambat shalat karena sedang ada si dia.

Tidak terbanyangkan, bagaimana bisa kira beranimemberikan sisa-sisa kesibukan duniawi kepada Allah Tuhan Semesta Alam? Kita mengatakan bahwa yang paling serius dalam hidup adalah Allloh, tetapi kita sendiri sangat tidak serius kepada-Nya.

Kalau benar kita seius kepada Allah Taa, kita pun harus serius mempelajari, mengenal, mendekat dan mengabdi kepada-Nya. Ilmu tentang Allah harus kita cari dan pelajari agar kita semakin mengenal dan semakin larut cinta kepada-Nya. CInta tidak ada artinya kalau hanya di bibir saja.

Misalnya, saat terjadi sesuatu yang luar biasa, kita boleh saja mengucap nama Allah. Saat mendapat rezeki kita bisa saja berkata, "Alhamdulillah, Allah Yang Maha Memberi". Tetapi benarkah kata-kata itu sesuai dengan yang ada di lubuk hari yang terdalam?Atau mungkin, kita bersusah-payah mengeluarkan suara serak-serak basah karena sedang di dekap calon mertua atau bos.

Kita biasa memajang stiker, ukiran, kaligrafi, spanduk ataupun baliho bertuliskan "Allah" di ruang tamu. Kita sudah hapal rukun iman sejak di TK atau SD. Namun, apakah kita sudah mengenal siapa dan bagaimana Allah? Lalu, apakah keyakinan dan cinta kita kepada-Nya sudah terpahat dalam di hati?

"Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sungguh, Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam dada(mu)." (QS. Az-Zumar [39]:7).

Saudaraku, kalau kita yakin bahwa yang paling penting dan paling serius dalam hidup adalah Allah, kita juga akan serius mengenal-Nya. Kalau kita serius memelajari ilmu yang paling agung, yaitu ilmu tentang Allah, kita juga akan mengenal banyak hal yang ada di bumi, langit atau kehidupan ini. Kapan dan di mana pun yakin bahwa Allah selalu memerhatikan. Dengan cara itulah hidup kita akan tenang, nyaman dan hati-hati.

Sebaliknya, hidup akan resah dan gelisah ketika yang paling serius tidak diseriusi. Kita akan galau dan bingung sendiri setiap kali menjalani bagian demi bagian episode kehidupan. ketidakseriusan belajar dan mengenal Allah Taala itulah sumber seluruh masalah dalam hidup.

Allah pasti memerhatikan. Allah juga menatap saudara saat sedang membaca tulisan ini. Allah pasti tahu apa yang ada dilubuk hati kita. Persoalannya, apakah kita benar -benar ingat dan yakin kalai kita sedang diperhatikan-Nya. Mari kita serius mengenal Allah Taala, Tuhan Semesta Alam.

KH.Abdullah Gymnastiar, ed. 2015. Ihktiar Meraih Ridha Allah. Bandung (ID): Emqies Publishing.)

Komentar

Embed Widget
x