Find and Follow Us

Kamis, 20 Juni 2019 | 00:49 WIB

Mengaku Pejuang Islam tapi Membunuh

Senin, 27 Mei 2019 | 06:00 WIB
Mengaku Pejuang Islam tapi Membunuh
(Ilustrasi)

BELIAU adalah ulama besar yang menjadi pembela ajaran ahlussunnah wal jamaah yang membela kebebasan dalam mengikuti mazab imam yang empat, lahir di Irak dan wafat secara syahid di Suriah.

Sebagai ulama besar beliau dikagumi oleh banyak ulama besar lainnya secara internasional dan telah menghasilkan banyak karya kitab yang juga banyak tersebar di Indonesia.

Said Ramadhan Al-Buthi lahir pada tahun 1929 di Desa Jilka, Pulau Buthan (Ibn Umar), sebuah kampung yang terletak di bagian utara perbatasan antara Turki dan Irak. Ia berasal dari suku Kurdi, yang hidup dalam berbagai tekanan kekuasaan Arab Irak selama berabad-abad.

WAFAT

Beliau telah syahid di malam yang mulia yakni pada malam Jumat, di waktu yang mulia yakni waktu antara Maghrib dan Isya, di tempat yang mulia di dalam Masjid atauMajelis Talim, dan dalam keadaan melakukan hal yang sangat mulia yakni di saat mengajarkan ilmu-ilmu Allah Swt, mengajarkan talim ahlussunnah wal jamaah. Beliau Fadhilatusy Syeikh Al Buthi gugur syahid di Masjid Al Iman Damaskus Suriah pada 05 Jumadil Awwal 1434 H/ 21 Maret 2013.

Kata Al-Habib Ali-Al-Jufri "Aku telah menelefonnya dua minggu lepas dan beliau (Dr Ramadhan Al-Buti) berkata pada akhir kalamnya: "Tidak tinggal lagi umur bagi aku melainkan beberapa hari yang boleh dikira. Sesungguhnya aku sedang mencium bau surga dari belakangnya. Jangan lupa wahai saudaraku untuk mendoakan aku"

NASAB

Bersama ayahnya, Syaikh Mula Ramadhan, dan anggota keluarganya yang lain, Al-Buthi hijrah ke Damaskus pada saat umurnya baru empat tahun. Ayahnya adalah sosok yang amat dikaguminya. Dalam karyanya yang mengupas biografi kehidupan sang ayah, Al-Fiqh al-Kamilah li Hayah asy-Syaikh Mula Al-Buthi Min Wiladatihi Ila Wafatihi, Syaikh Al-Buthi mengurai awal perkembangan Syaikh Mula dari masa kanak-kanak hingga masa remaja saat turut berperang dalam Perang Dunia Pertama. Kemudian menceritakan pernikahan ayahnya, berangkat haji, hingga alasan berhijrah ke Damaskus, yang di kemudian hari menjadi awal kehidupan baru bagi keluarga asal Kurdi itu.

Masih dalam karyanya ini, Al-Buthi menceritakan kesibukan ayahnya dalam belajar dan mengajar, menjadi imam dan berdakwah, pola pendidikan yang diterapkannya bagi anak-anaknya, ibadah dan kezuhudannya, kecintaannya kepada orang-orang shalih yang masih hidup maupun yang telah wafat, hubungan baik ayahnya dengan para ulama Damaskus di masa itu, seperti Syaikh Abu Al-Khayr Al-Madani, Syaikh Badruddin Al-Hasani, Syaikh Ibrahim Al-Ghalayayni, Syaikh Hasan Jabnakah, dan lainnya, yang menjadi mata rantai tabarruk bagi Al-Buthi. Begitu besarnya atsar (pengaruh) dan kecintaan sang ayah, hingga Al-Buthi begitu terpacu untuk menulis karyanya tersebut.

PENDIDIKAN

Pendidikan sang ayah sangat membekas dalam sisi kehidupan intelektualnya. Ayahnya memang dikenal sebagai seorang ulama besar di Damaskus. Bukan saja pandai mengajar murid-murid dan masyarakat di kota Damaskus, Syaikh Mula juga sosok ayah yang penuh perhatian dan tanggung jawab bagi pendidikan anak-anaknya.

Setelah menamatkan pendidikan Ibtidaiyah, ayahnya mendaftarkan sang anak di Mahad at-Taujih al-Islamy di daerah Meidan, Damaskus di bawah pengawasan seorang mahaguru al-Allamah Syekh Hasan Habannakeh rahimahullah. Syekh Hasan mengetahui pada diri Said terdapat kecerdasan yang menonjol, karena itulah ia amat memperhatikannya dan menjadikannya fokus pengawasan, hingga Said dapat menamatkan pendidikan Mahad-nya dan menggondol Ijazah Tsanawiyah Syariyyah.

Said Ramadhan Al-Buthi muda menyelesaikan pendidikan menengahnya di Institut At-Tawjih Al-Islami di Damaskus. Kemudian pada tahun 1953 ia meninggalkan Damaskus untuk menuju Mesir demi melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar. Dalam tempo dua tahun, ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana S1 di bidang syariah. Pada tahun berikutnya di universitas yang sama, ia mengambil kuliah di Fakultas Bahasa Arab hingga lulus dalam waktu yang cukup singkat dengan sangat memuaskan dan mendapat izin mengajar bahasa Arab.

Kemahiran Al-Buthi dalam bahasa Arab tak diragukan. Sekalipun bahasa ini adalah bahasa ibu orang-orang Arab seperti dirinya, sebagaimana bahasa-bahasa terkemuka dalam khazanah peradaban dunia, ada orang-orang yang memang dikenal kepakarannya dalam bidang bahasa, dan Al-Buthi adalah salah satunya yang menguasai bahasa ibunya tersebut. Di samping itu, kecenderungan kepada bahasa dan budaya membuatnya senang untuk menekuni bahasa selain bahasa Arab, seperti bahasa Turki, Kurdi, bahkan bahasa Inggris.

Selulusnya dari Al-Azhar, Al-Buthi kembali ke Damaskus. Ia pun diminta untuk membantu mengajar di Fakultas Syariah pada tahun 1960, hingga berturut-turut menduduki jabatan struktural, dimulai dari pengajar tetap, menjadi wakil dekan, hingga menjadi dekan di fakultas tersebut pada tahun 1960.

Lantaran keluasan pengetahuannya, ia dipercaya untuk memimpin sebuah lembaga penelitian theologi dan agama-agama di universitas bergengsi di Timur Tengah itu.

Tak lama kemudian, Al-Buthi diutus pimpinan rektorat kampusnya untuk melanjutkan program doktoral bidang ushul syariah di Al-Azhar hingga lulus dan berhak mendapatkan gelar doktor di bidang ilmu-ilmu syariah.

Aktivitasnya sangat padat. Ia aktif mengikuti berbagai seminar dan konferensi tingkat dunia di berbagai negara di Timur Tengah, Amerika, maupun Eropa. Hingga saat ini ia masih menjabat salah seorang anggota di lembaga penelitian kebudayaan Islam Kerajaan Yordania, anggota Majelis Tinggi Penasihat Yayasan Thabah Abu Dhabi, dan anggota di Majelis Tinggi Senat di Universitas Oxford Inggris.

PENULIS YANG SANGAT PRODUKTIF

Al-Buthi adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karyanya mencapai lebih dari 60 buah, meliputi bidang syariah, sastra, filsafat, sosial, masalah-masalah kebudayaan, dan lain-lain. Beberapa karyanya yang dapat disebutkan di sini, antara lain:

1. Muhadhorot Fil Fiqhil Muqharin Maa Muqaddimati Fi Bayani Asbabi Ikhtilafi al-Fuqaha Wa Ahammiyyati Dirasatil Fiqhil Muqarin (Problematika Dalam Fiqh Muqarin, Sebab Terjadinya Perbedaan Fuqaha, Dan Pentingnya Mempelajari Fiqh Muqarin)

2. Al-Islam Maladz Kulli Mujtamaat Insaniyyah; Limadza Wa Kaifa? (Islam Tempat Berlindung Seluruh Masyarakat Sosial; Mengapa dan Bagaimana?)

3. Al Jihad Fil Islam; Kaifa Nafhamuhu ? Wa Kaifa Numarisuhu? (Jihad dalam Islam; Bagaimana Kita Memahami dan Melaksanakannya?

4. Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islami

5. Al Uqhubat Islamiyyah; Wa Aqduhu al-Tanaqhudhu Bainaha Wa Baina Ma Yusamma Bithobiihal Ashri

6. Hurriyatul Insan Fi Dhilli Ubudiyyahatihi Lillah (Kebebasan Manusia Dalam Beribadah)

7. Difa An Islam Wa Tarikh (Belaan Terhadap Islam dan sejarah)

8. Al Islam Wa Asru; Tahaddiyat Wa Afaq (Islam dan Modernisme; Sebuah Tantangan dan Harapan)

9. Al-Marah Bayn Thughyan an-Nizham al-Gharbiyy wa Lathaif at-Tasyri ar-Rabbaniyy

10. Al-Islam wa al-Ashr

11. Awrubah min at-Tiqniyyah ila ar-Ruhaniyyah: Musykilah al-Jisr al-Maqthu

12. Barnamij Dirasah Quraniyyah

13. Syakhshiyyat Istawqafatni

14. Syarh wa Tahlil Al-Hikam Al-Athaiyah

15. Kubra al-Yaqiniyyat al-Kauniyyah

16. Hadzihi Musykilatuhum

17. Wa Hadzihi Musykilatuna

18. Kalimat fi Munasabat

19. Musyawarat Ijtimaiyyah min Hishad al-Internet

20. Maa an-Nas Musyawarat wa Fatawa

21. Manhaj al-Hadharah al-Insaniyyah fi Al-Quran

22. Hadza Ma Qultuhu Amama Badh ar-Ruasa wa al-Muluk

23. Yughalithunaka Idz Yaqulun, Min al-Fikr wa al-Qalb

24. La Yatihi al-Bathil

25. Fiqh as-Sirah

26. Al-Hubb fi al-Quran wa Dawr al-Hubb fi Hayah al-Insan

27. Al-Islam Maladz Kull al-Mujtamaat al-Insaniyyah

28. Azh-Zhullamiyyun wa an-Nuraniyyun.

29. Al Aqidah Al Islamiyyah wa Al Fikr al Muasirah

30. Al La Madzhabiyyah Akhtaru Bidatin Tuhaddidu as Syariah Al Islamiyyah

31. Al Mazdhab al Iqtishady Baina Syuyuiyyah Wal Islam

32. Dhawabitu Al Maslahat Fi As Syariah al Islamiyyah

33. Fi Sabilillahi Wa Al Haq

34. Hiwar Haula Musykilati Hadhariyyah

35. Mbahitsul Kitab Wa As Sunnah min Ilmi Ushulil Fiqhi

36. Mamuzain, Qishatu Hubbub Nabati Fi Al Ardhi wa Ainau fi As Sama, Mutarjamah

37. Manhaj Al Hadharah al Insaniyyah Al Jadaliyyah

38. Manhaj Al Audah Ilal Islam

39. Masalatu Tahdidi an Nashli Wiqayatn wa Ilajan

40. Min Al fikri wa Al Qalbi

41. Min Rawaiyl Quran

42. Naqdul Auhami Al Maddiyah Al Jadaliyah

43. Tajribatut Tarbiyah Al Islamiyyah Fi Mizan Al Bahts

44. Al insan Wa Adatullahi Fi Al Ardli

45. Al islamu Wa Muskilatus sabab

46. Bathinul Ismi al Khatar Fi Hayatl Muslimin

47. Hakadza Fal Nadu al Islam

48. Ila Kulli fatatin Tuminu Billah

49. Man Huwa Sayyidu al Qadri fi Hayatil Insan

50. Minal Masul An Takhallufi Al Muslimin

51. Min Asrari Alk Manhaj Al Islami

Gaya bahasa Al-Buthi istimewa dan menarik. Tulisannya proporsional dengan tema-tema yang diusungnya. Tulisannya tidak melenceng dan keluar dari akar permasalahan dan kaya akan sumber-sumber rujukan, terutama dari sumber-sumber rujukan yang juga diambil lawan-lawan debatnya.

Akan tetapi bahasanya terkadang tidak bisa dipahami dengan mudah oleh kalangan bukan pelajar, disebabkan unsur falsafah dan manthiq, yang memang keahliannya. Oleh karena itu, majelis dan halaqah yang diasuhnya di berbagai tempat di keramaian kota Damaskus menjadi sarana untuk memahami karya-karyanya.

Walau demikian, sebagaimana dituturkan pecinta Al-Buthi, di samping mampu membedah logika, kata-kata Al-Buthi juga sangat menyentuh, sehingga mampu membuat pembacanya berurai air mata.

Salah satu muridnya dari Indonesia, H Rojih Ubab Maimoen, mengisahkan, bahwa gaya bahasa dalam tulisan Syaikh Said sangat lugas dan menarik. Syaikh Said tidak akan menulis sesuatu yang sudah ada dan diperlukan sebelumnya. Sehingga semua yang beliau tulis adalah berdasar pada bahasa hati dan kejernihan pemikiran bukan menukil dari karya-karya lain (plagiat). Dari sinilah saya yakin kalau Syaikh Said adalah seorang Mujtahid.

Banyaknya karya Syaikh Said di semua fan ilmu menunjukkan betapa komplitnya keilmuan beliau. Jarang ditemui seorang ulama yang menguasai semua disiplin ilmu secara merata. Sebagai gambaran bila seseorang mahir di bidang Fikih, maka biasanya dalam bidang yang lain tidak begitu menonjol. Ada juga seseorang yang ahli di bidang tasawuf tapi penguasaan ilmu yang lain terkadang kurang, begitu seterusnya.

Syaikh Said termasuk di antara (ulama) yang jarang itu. Keilmuan beliau mengingatkan dunia Islam kepada sang Hujjah al-Islam, Imam Ghazali yang memiliki kemampuan berkarya di setiap cabang ilmu. Imam Ghazali mempunyai kitab Wajiz, Wasith, dll di bidang Fikih, di bidang Ushul Fikih beliau punya kitab bernama Mustasyfa, sedang di bidang tasawuf beliau punya karya fenomenal, Ihya Ulumuddin, dan seterusnya. Kemampuan itu pula yang ada dalam diri Syaikh Said Ramadhan al-Buthi dengan karya-karyanya yang mencapai puluhan buku/kitab dari berbagai disiplin ilmu terkecuali bila ilmu tersebut tidak memungkinkan adanya pembaharuan seperti Nahwu. Oleh karena itu, banyak kalangan mengatakan bahwa Syaikh Said adalah titisan Imam Ghazali atau biasa disebut dengan laqab "Al-Ghazali as-Shaghir" (Imam Ghazali kecil)

PEMBELA MADZHAB EMPAT

Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi mengasuh halaqah pengajian di masjid Damaskus dan beberapa masjid lainnya di seputar kota Damaskus, yang diasuhnya hampir tiap hari. Majelis yang diampunya selalu dihadiri ribuan jamaah, laki-laki dan perempuan.

Selain mengajar di berbagai halaqah, ia juga aktif menulis di berbagai media massa tentang tema-tema keislaman dan hukum yang pelik, di antaranya berbagai pertanyaan yang diajukan kepadanya oleh para pembaca. Ia juga mengasuh acara-acara dialog keislaman di beberapa stasiun televisi dan radio di Timur Tengah, seperti di Iqra Channel dan Ar-Risalah Channel.

Dalam hal pemikiran, Al-Buthi dianggap sebagai tokoh ulama Ahlussunnah wal jamaah yang gencar membela konsep-konsep Madzhab yang Empat dan aqidah Asyariyah, Maturidiyah, Al-Ghazali, dan lain-lain, dari rongrongan pemikiran dan pengkafiran sebahagian golongan yang menganggap hanya merekalah yang benar dalam hal agama.

Berbekal pengetahuannya yang amat mendalam dan diakui berbagai pihak, ia meredam berbagai permasalahan yang timbul dengan fatwa-fatwanya yang bertabur hujjah dari sumber yang sama yang dijadikan dalil para lawan debatnya. Ujaran-ujaran Al-Buthi juga menyejukkan bagi yang benar-benar ingin memahami pemikirannya.

Al-Buthi bukan hanya seorang yang pandai di bidang syariah dan bahasa, ia juga dikenal sebagai ulama Sunni yang multidisipliner. Ia dikenal alim dalam ilmu filsafat dan aqidah, hafizh Quran, menguasai ulumul Quran dan ulumul hadits dengan cermat. Sewaktu-waktu ia melakukan kritik atas pemikiran filsafat materialisme Barat, di sisi lain ia juga melakukan pembelaan atas ajaran dan pemikiran Madzhab fiqih dan aqidah Ahlussunnah, terutama terhadap tudingan kelompok yang menisbahkan dirinya sebagai golongan Salafiyah dan Wahabiyah.

Dalam hal yang disebut terakhir, ia menulis dua karya yang meng-counter berbagai tudingan dan klaim-klaim mereka, yakni kitab berjudul Al-LaMadzhabiyyah Akbar Bidah Tuhaddid asy-Syariah al-Islamiyyah dan kitab As-Salafiyyah Marhalah Zamaniyyah Mubarakah wa Laysat Madzhab Islamiyy. Begitu pula hubungannya dengan gerakan-gerakan propaganda keislaman seperti Ikhwanul Muslimin Suriah yang tampak kurang baik, tentunya dengan berbagai perbedaan pandangan, yang menjadikan ketidaksetujuannya itu tampak dalam sebuah karya yang berjudul Al-Jihad fi al-Islam, yang terbit pada tahun 1993.

TAWASSUTH

Di era 1990-an, Al-Buthi telah menampakkan intelektualitasnya dengan menggunakan sarana media informasi, seperti televisi dan radio. Ini demi mengusung pemikiran-pemikirannya yang tawassuth (menengah) di tengah gerakan-gerakan fundamentalisme Islam yang bermunculan.

Sayangnya, kedekatannya dengan penguasa politik Suriah saat itu, Hafizh Al-Asad, menjadi bumbu tak sedap di kalangan pemerhati politik. Namun kedekatannya itu juga menjadi siasat politik Suriah dalam menyokong perjuangan Hamas (Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah) dalam menghadapi aneksasi Israel, sekalipun beberapa pandangannya bertolak belakang dengan gerakan-gerakan semacam itu.

Di usia yang semakin senja, Syaikh Al-Buthi masih tetap menulis, baik lewat website yang diasuhnya maupun beberapa media massa dan elektronik lainnya. Betapa besar harapan umat ini, khususnya kalangan Ahlussunnah wal jamaah, menanti karya-karyanya yang lain terlahir, untuk memenuhi dahaga ilmu yang tak pernah habis-habisnya. Di mata beberapa ulama dan ustadz-ustadz yang pernah menimba ilmu di Suriah, saat ini Al Buthi lebih dikenal sebagai tokoh ulama sufi dibanding tokoh pergerakan.

Buku-buku karya Al Buthi banyak beredar di Indonesia dan karyanya banyak menjadi rujukan. Salah satu bukunya berisi kritik terhadap gerakan kelompok Salafy Wahabi berjudul Salafiyyah; Marhalah Zamaniyyah Mubarakah La Madzhab Islami. [Sufinews]

Komentar

Embed Widget
x