Find and Follow Us

Kamis, 21 November 2019 | 16:07 WIB

Persoalan Nyata dari Kisah Nyata tentang Zakat

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Sabtu, 25 Mei 2019 | 00:05 WIB
Persoalan Nyata dari Kisah Nyata tentang Zakat
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

SETIAP bulan Ramadlan, diskusi tentang zakat selalu saja hadir. Semoga ini menjadi pertanda terus tingginya semangat umat Islam akan kewajiban zakat sebagai salah satu dari rukun Islam yang lima. Zakat memiliki posisi sama dengan rukun Islam lainnya, seperti shalat.

Seringkali perintah zakat itu disandingkan dengan perintah menegakkan shalat. Bisa jadi ini bermakna bahwa shalat dan zakat adalah gandengan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia. Dua hubungan ini haruslah baik demi menggapai bahagia sejati.

Ada kasus nyata yang ingin saya share pagi ini. Salah seorang kaya Saudi meletakkan beberapa ribu riyal saudi dalam sebuah tas untuk diserahkan kepada fakir miskin atas nama niat mengeluarkan zakat. Tas itu tertutup rapi dan uangnya tak terlihat dari luar. Saat bertemu dengan seorang miskin dia berkata: "Bapak, ini zakat saya, saya berikan kepada Bapak." Sang miskin senang dan bersyukur kepada Allah serta berterima kasih kepada orang kaya itu. Kasus yang ingin saya kisahkan tidak berhenti pada bagian ini.

Segera setelah tas berisi uang zakat itu diterima, orang kaya itu berkata lagi: "Bapak, maukah Bapak menjual tas dan isinya ini kepada saya dengan harga 100 riyal." Si kaya menunjukkan uang 100 riyal itu di hadapan si fakir. Karena si miskin itu tidak tahu isi tas itu apa dan seberapa, maka dengan senang hati tawaran 100 riyal itu diterimanya. Maka terjadilah jual beli.

Nah, orang kaya tersebut di atas telah merasa membayar zakat maalnya, merasa bebas kewajibannya. Orang kaya itu juga telah merasa beruntung mendapatkan kembali hartanya dengan cara halal, yaitu dengan transaksi jual beli. Bagaimanakah pandangan para pembaca sekalian terhadap kasus ini? Sahkah zakatnya? Sahkah jual belinya?

Tunaikan zakat dengan benar dengan segera, sebelum syetan membuat kita ragu akan kewajiban kita mengeluarkannya dan sebelum syetan membisikkan kalkulasi untung rugi berdasarkan perhitungan kalkulator. Salam, Ahmad Imam Mawardi, Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya

NB: Terimakasih kepada semua saudara, teman dan jamaah yang telah menyalurkan zakat, infaq dan shadaqahnya melalui kami. InsyaAllah akan kami salurkan sesuai dengan aturan syari'at. [*]

Komentar

x