Find and Follow Us

Rabu, 19 Juni 2019 | 23:48 WIB

Hakikat Kehidupan dan Cara Terbaik Menyikapinya

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 24 Mei 2019 | 14:23 WIB
Hakikat Kehidupan dan Cara Terbaik Menyikapinya
(Foto: Ilustrasi)

SAYA pernah berkunjung ke penjara, bertemu dengan para tahanan dan berbincang-bincang dengan para sipir serta kepala penjara. Saat itu saya diundang untuk memberikan pengajian agama untuk para napi. Banyak juga yang ikut dan mereka antusias sekali.

Ada beberapa pelajaran yang saya ambil: pertama bahwa orang yang di penjara pun merindukan sentuhan ruhani. Urusan ruhani adalah urusan penting bagi setiap insan. Jangan pernah menganggap bahwa semua yang dipenjara itu adalah orang tak baik yang tak akan pernah menjadi baik; kedua adalah bahwa mereka yang tinggal di penjara tidaklah selamanya tinggal di penjara. Penghuninya bergantian, selalu bergantian

Saya pernah berkunjung ke istana. Tercatat dalam sejarahnya ada banyak raja dan penguasa yang pernah tinggal di sana. Ruangan-ruangan dan aksesoris serta dekorasinya sangat indah. Yang memandangnya berguman menduga betapa bahagianya para penghuni di dalamnya. Ternyata, sejarah mencatat bahwa di dalamnya telah menetes banyak air mata kesedihan dan mengalir banyak darah pengantar kematian.

Ada banyak pelajaran yang saya ambil dari kunjungan saya di istana itu, antara lain: pertama, tak akan ada kebahagiaan sempurna di dalam hidup di dunia ini. Karenanya tak perlulah istana diperebutkan dengan mengorbankan hakikat cinta dan kemanusiaan; kedua, ternyata, tak ada pula yang abadi tinggal di istana, semua pasti bergiliran dengan cara lengser atau terjadinya kematian. Karena itu, tak usahlah berlebihan bangganya diri saat ada di istana.

Ternyata, tinggal di manapun di dunia ini hanyalah sementara dan akan terus bergilir bergantian. Karena itu, sikapilah urusan dunia ini dengan sewajarnya saja, tidak berlebih-lebihan. Jangan larut dalam pertengkaran tiada henti. Bergandeng tangan untuk terus membangun peradaban indah yang akan diwariskan kepada anak cucu generasi mendatang adalah sikap paling waras dan bijak dari orang dewasa yang sesungguhnya. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x