Find and Follow Us

Rabu, 16 Oktober 2019 | 17:35 WIB

Pembagian Harta Zakat: Harta Dzahir & Harta Bathin

Selasa, 21 Mei 2019 | 13:00 WIB
Pembagian Harta Zakat: Harta Dzahir & Harta Bathin
(Ilustrasi)
facebook twitter

ISTILAH harta dzahir dan harta bathin tidak kita jumpai dalam dalil al-Quran dan sunah. Tidak pula dalam penjelasan para sahabat. Hanya saja para ulama sepakat mengenai pembagian ini. (Penjelasan dalam keputusan Baituz Zakat, untuk pertemuan ke-5, hlm. 505). Kita bisa jumpai penggunaan istilah ini dalam buku-buku para ulama fikih. Mereka membagi harta zakat menjadi 2, harta dzahir dan harta bathin.

Kita simak penjelasan al-Qadhi Abu Yala ulama Hambali ,

Al-Qodhi Abu Yala menjelaskan pembagian harta dzahir dan bathin itu dan beliau juga sebutkan contohnya,

: . : : .: :

Harta yang dizakati ada 2 bentuk: dzahir dan bathin. Harta dzahir adalah harta yang tidak mungkin disembunyikan, seperti hasil tanaman, buah-buahan, dan binatang ternak. Dan harta bathin adalah harta yang mungkin untuk disembunyikan, seperti emas, perak dan harta perdagangan.

Kemudian al-Qadhi menjelaskan pembagian ini kaitannya dengan tugas amil,

Amil zakat tidak memiliki wewenang untuk menaksir zakat harta bathin. Pemiliknya yang paling berhak untuk menunaikan zakat harta bathin, kecuali jika dia serahkan harta itu atas kerelaannya, lalu amil menerimanya dari mereka, sehingga status amil membagikan zakat hanya membantu mereka. Amil hanya berwenang menaksir harta dzahir. Dia boleh perintahkan pemilik harta untuk menyerahkan zakat hartanya kepadanya ketika amil minta. Jika tidak diminta amil, muzakki boleh menyerahkannya ke amil. (al-Ahkam as-Sulthaniyah, hlm. 180)

Penjelasan lain disampaikan oleh an-Nawawi ulama Syafiiyah dalam Ianatut Thalibin,

Amil dilarang untuk meng-audit harta bathin, yaitu mata uang dan barang dagangan, bukan harta dzahir, seperti hewan ternak, hasil pertanian dan buah-buahan. (Ianatut Thalibin, 2/175).

Juga disampaikan al-Kasani ulama Hanafi dalam kitabnya, BadaI as-ShanaI,

Harta zakat ada 2, harta dzahir seperti hewan ternak dan harta yang dilaporkan pedagang kepada petugas penarik pajak. Dan harta bathin, seperti emas, perak, dan harta perdagangan yang tidak nampak di tempat perdagangnya. (Badai as-Shanai, 2/35).

Syaikh Abu Zahrah ulama kontemporer menjelaskan,

Harta yang dikumpulkan Utsman radhiyallahu anhu diantaranya harta zakat. Dan ada yang disebut harta dzahir dan ada harta bathin (at-Taujih at-Tasyrii, Muhammad Baithar, 2/149).

Dan dari batasan yang disampaikan para ulama di atas, kita bisa simpulkan bahwa inti dari harta dzahir adalah harta yang tidak mungkin bisa disembunyikan, sehingga bisa diketahui orang lain. Mengenai rinciannya, mereka berbeda-beda dalam menyebutkannya.

Pertanyaannya, apakah harta perdagangan termasuk?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Beberapa keterangan di atas memasukkan harta perdagangan bagian dari harta bathin. Karena tidak diketahui orang lain. Dan itulah pendapat jumhur ulama. Meskipun ada juga yang menggolongkan harta perdagangan sebagai harta dzahir, karena bisa diketahui orang lain. Ini merupakan pendapat Abul Faraj asy-Syirazi, sebagaimana keterangan dalam al-Inshaf. (al-Inshaf, 6/342)

[baca lanjutan]

Komentar

x