Find and Follow Us

Kamis, 20 Juni 2019 | 12:00 WIB

Hamba Pilihan Allah

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar | Jumat, 17 Mei 2019 | 01:11 WIB
Hamba Pilihan Allah
(Foto: Ilustrasi)

AA pernah bertemu dengan seseorang yang senang membangun masjid. Meskipun demikian, beliau tetap saja merasa banyak dosa. Beliau sudah membangun sepuluh masjid. Dua di antaranya dibangun di lahan yang ada kuburan, yaitu kuburan sang pemilik tanah yang meninggal lebih dari empat puluh tahun lalu.

Ketika kuburan dibongkar dan hendak dipindah, penggali kubur tiba-tiba berteriak. Dia melihat kalau jenazah beserta kain kafannya juga utuh dan tetap bersih. Yang tidak kalah dramatis, ada tiga kuburan lain yang semua jenazah dan kain kafannya juga utuh setelah 60 tahun dikuburkan. Dua kubur milik sepasang suami-istri, hafiz dan hafizah. Adapun jasad ketiga adalah jasad seorang jawara atau preman yang bertobat. Insya Allah, mereka adalah orang-orang pilihan Allah.

Bisa menemukan empat jenazah sekaligus dan dalam kondisi utuh termasuk pengalaman yang luar biasa dan sangat langka. Padahal, kita banyak melihat jenazah yang masih baru sudah mulai menimbulkan bau busuk. Belum disimpan di liang lahat sudah mulai berubah bentuk. Dan, bukan hanya jenazahnya, kain kafan yang dikubur berpuluh tahun tetap bersih saja sudah menakjubkan. Baju yang kita pakai saja kalau di tanam di dalam tanah pasti akan kotor.

Mengapa bisa tetap utuh? Tentu saja bukan karena ahli warisnya yang rajin menyiram kuburan dengan formalin. Tapi karena semua yang ada di langit dan di bumi adalah ciptaan Allah taala, termasuk bakteri, belatung dan cacing. Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memberi tahu kecintaan-Nya tersebut dan memerintahkan Malaikat Jibril untuk pula mencintai hamba tersebut. Maka, Malaikat Jibril akan mencintai dan memberi tahu seluruh penghuni langit. Lalu makhluk di bumi pun bagi yang dikehendaki oleh Allah untuk tahu akan mengetahui apabila hamba tersebut adalah kekasih Allah.

Pernahkan terpikirkan oleh kita untuk menjadi hamba pilihan Allah Taala? Apakah pernah terbesit di dalam hati walaupun hanya sedikit? Saudaraku, tekadkanlah di dalam hati untuk menjadi kekasih-Nya. Tentu saja, hati ini tidak dengan memajang pengumuman, seperti tulisan. "Saya pemburu cinta Allah" di pintu rumah atau di laptop. Aneh jadinya, cinta kepada Allah tetapi diumumkan kepada orang-orang. Sebetulnya itu berharap dicintai dan dikagumi oleh makhluk?

Sesungguhnya, ciri kekasih Allah itu tidak takut kepada apapun dan siapapun. Jangankan tidak dicintai makhluk, dihina, dicaci, bahkan diancam dibunuh sekalipun dia tidak takut. Hal ini menjadikan kesedihan atas dunia menjauh darinya. Punya atau tidak punya uang bukan masalah baginya. Ketakutannya hanya satu, yaitu takut tersisih dari sisi Allah Taala. Selain keyakinan penuhnya kepada Allah, dia juga pasti istiqomah, patuh kepada Allah dan hatinya bersih. Qalbun salim.

Kita dapat berkaca kepada Rasulullah Shallallahualaihi wasallam. Suatu ketika beliau dihina dan dimaki-maki. Namun, apa apa yang beliau lakukan? Alih-alih marah, beliau malah berkata dengan tenang, "Masih adakah yang mau kau katakan, katakanlah." Dan, setelah semua cacian habis dilemparkan, beliau pun membuka jubahnya dan mengambil uang. Jubah beserta uang itu kemudian diberikan sebagai balasan caci-maki tadi.

Jadi, para pecinta Allah itu, di lubuk hatinya penuh kerahasiaan. Allah Taala pasti mengetahui hal itu. Maka, kita bulatkan tekad untuk menjadi hamba pilihan-Nya, yaitu dengan mencintai Allah dan meneladani Rasulullah. "Katakanlah (Muhammad), jika kamu mencintai Allah, ikutilah aki, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Ali Imran [3]:31).

(KH.Abdullah Gymnastiar, ed. 2015. . Bandung (ID): Emqies Publishing)

Komentar

Embed Widget
x