Find and Follow Us

Rabu, 19 Juni 2019 | 23:46 WIB

Menghina Rasulullah dan Bertobat

Jumat, 17 Mei 2019 | 21:00 WIB
Menghina Rasulullah dan Bertobat
(Foto: Ilustrasi)

JIKA pelakunya bertaubat sungguh-sungguh kepada Allah, Allah akan mengampuni dosanya. Karena Allah mengampuni semua dosa orang-orang yang tulus bertaubat meminta maaf kepadaNya.

Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar : 53)

Namun, masalah menghina Rasulullah, tidak hanya menyangkut pribadi beliau shallallahualaihi wasallam. Tapi juga menyangkut penghinaan kepada Allah taala tuhan alam semesta yang telah mengutusnya.

Sehingga di sini ada dua hak yang telah diinjak-injak:

[1] Hak Allah.

Ini dapat termaafkan dengan taubat yang jujur. Karena Allah telah menjanjikan akan mengampuni semua dosa bagi yang bertaubat.

Dalilnya surat Az-Zumar ayat 53 di atas.

[2] Hak Rasulullah.

Ini yang menjadi pembahasan alot para Ulama. Apakah juga bisa selesai dengan bertaubat, atau hukuman mati harus tetap dijalankan?

Pertama, jika seorang melakukan penghinaan kepada Rasul saat dia masih kafir, kemudian masuk Islam, maka dia tidak mendapatkan hukuman mati.

Karena Islam meleburkan seluruh dosa yang dia lakukan saat masih kafir. Allah berfirman,

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, "Jika mereka berhenti dari kekafirannya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu; dan jika mereka kembali lagi memerangi Nabi, sungguh, berlaku (kepada mereka) hukuman Allah terhadap orang-orang dahulu (dibinasakan)." (QS. Al-Anfal : 38)

Kedua, seorang menghina Nabi saat ia berstatus muslim.

Di sini para ulama berbeda pendapat. Ada tiga pendapat :

[1] Hukuman mati gugur dengan taubatnya.

[2] Taubat tidak diterima, dan hukuman mati harus diberlakukan.

[3] Taubatnya diterima dan hukuman mati harus tetap dijalankan.

Pendapat ketiga inilah insyaallah yang paling kuat. Sebagaimana dipilih oleh Syaikhul Islam al-Harrani rahimahullah, dan dikuatkan oleh Syekh IbnuUtsaimin rahimahullah, beliau menyatakan,

Dalam masalah ini ada tiga pendapat ulama. Namun pendapat yang paling kuat, taubatnya diterima dan tetap berlaku hukuman mati. (Liqo al-Bab al- Maftuh 5/53)

Hal ini karena:

[1] Taubat hanya dapat mengugurkan dosa pelaku dengan Allah.

Allah telah menjanjikan akan memaafkan kesalahan hamba-Nya yang bertaubat jujur.

Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar : 53)

[2] Adapun dosanya kepada Nabi, ini yang kita tidak tahu apakah Nabi akan menuntutnya atau memaafkannya di hari Kiamat kelak.

Mengingat tidak adanya dalil tegas yang menerangkan pemberian maaf dari Nabi untuk orang-orang yang menghinanya. Yang ada malah dalil tegas menunjukkan hukuman mati bagi penghina Nabi. Sebagaimana dijelaskan salam hadis dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, beliau menceritakan,

Ada seorang wanita yahudi yang menghina Nabi, dan mencela beliau. Kemudian orang ini dicekik oleh seorang sahabat sampai mati. Namun Nabi menggugurkan hukuman apapun darinya. (HR. Abu Daud 4362 dan dinilai Jayid oleh Syaikhul Islam)

Karenanya, hukuman mati tetap berlaku dalam rangka untuk menyelesaikan dosanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

[3] Hukuman seperti ini, dapat memberikan efek jera bagi yang lain.

Agar tidak menyepelekan kehormatan baginda yang mulia Rasulullah. Menghina beliau, sama saja menghina ajaran suci yang dibawanya.

[baca lanjutan]

Komentar

Embed Widget
x