Find and Follow Us

Rabu, 24 Juli 2019 | 01:40 WIB

10 Malam Terakhir Ramadan Dilarang Hubungan Intim?

Kamis, 16 Mei 2019 | 11:00 WIB
10 Malam Terakhir Ramadan Dilarang Hubungan Intim?
(Foto: Ilustrasi)

BENARKAH selama 10 malam terakhir Ramadan umat Islam dilarang melakukan hubungan badan?

Tidak seperti itu. Allah telah menghalalkan bagi umat Islam untuk melakukan hubungan badan di malam Ramadan. Allah berfirman,

"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka." (QS. al-Baqarah: 187).

Dalam ayat di atas, Allah halalkan hubungan badan pada lailatas shiyam []. Kata lailah adalah isim jenis yang menunjukkan makna seluruh malam. Sehingga ayat ini dalil boleh melakukan hubungan badan sepanjang malam puasa ramadan. Artinya, itu berlaku sampai akhir ramadan.

Kecuali bagi orang itikaf, mereka dilarang melakukan hubungan badan, karena bisa membatalkan itikafnya.

Allah berfirman,

"Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam mesjid." (QS. al-Baqarah: 187).

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam Mengencangkan Ikat Pinggangnya?Menurut keterangan Aisyah Radhiyallahu anha, ketika masuk 10 terakhir ramadan, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam lebih rajin lagi dalam beribadah. Aisyah mengatakan,

"Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ketika masuk 10 terakhir ramadan, beliau mengencangkan sabuknya, menghabiskan malamnya dengan ibadah, dan membangunkan para istrinya (untuk ibadah). (HR. Bukhari 2024).

Ada beberapa keterangan ulama tentang makna keterangan Aisyah Radhiyallahu anha, "mengencangkan sabuknya",

- Dimaknai secara hakiki. Artinnya, beliau benar-benar mengencangkan sabuknya.

- Dipahami sebagai kalimat kiasan, untuk mengungkapkan dua hal,yakni -Menjauhi hubungan badan, dan atau menghabiskan waktu untuk fokus ibadah

Mengapa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjauhi istrinya di 10 malam terakhir Ramadan? Ada yang mengatakan, karena beliau sedang itikaf. Ada juga yang mengatakan, itu terjadi di luar itikaf. Yang kedua ini merupakan pendapat al-Qurthubi. (Fathul Bari, 4/269)

Namun apapun itu, apa yang beliau lakukan bukan dalam rangka melarang umatnya untuk melakukan hubungan badan di 10 malam terakhir ramadan. Namun untuk karena kesungguhan beliau dalam beribadah ketika itu, hingga beliau tinggalkan hubungan badan. Allahu alam.[]

Komentar

x