Find and Follow Us

Kamis, 20 Juni 2019 | 00:38 WIB

Keutamaan Makan Sahur

Selasa, 14 Mei 2019 | 07:00 WIB
Keutamaan Makan Sahur
(Foto: Istimewa)

DALAM bahasa Arab, as-sahur () dengan membaca fathah huruf sin adalah benda makanan dan minuman untuk sahur. Adapun as-suhur () dengan men-dhommah huruf sin adalah mashdar yakni perbuatan makan sahur itu sendiri. (An-Nihayah, 2/347)

Hukum makan sahur adalah sunah, berdasarkan hadis dari Anas bin Malik radiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat barakah." (Muttafaqun alaih)

Al-Imam An-Nawawi berkata: "Para ulama telah bersepakat tentang sunnahnya makan sahur dan bukan suatu kewajiban." (Syarh Shahih Muslim, 7/207).

Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu alaihi wasallam mendorong kita untuk tidak meninggalkan makan sahur meskipun hanya dengan seteguk air. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Abu Said Al-Khudri radiyallahu anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Makan sahur adalah barakah maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah seorang di antara kalian hanya minum seteguk air." (HR. Ahmad, hadits hasan, lihat Shahihul Jamiish Shaghir, 1/686 no. 3683).

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Sahur dapat diperoleh seseorang yang makan dan minum meskipun hanya sedikit." (Fathul Bari, 4/166)

Keutamaan Sahur

Dari sahabat Anas Bin Malik Ra, beliau berkata, Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, "Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makanan sahur terdapat barakah". (HR. Muttafaqun alaih).

Imam Ibn Hajar rahimahullah menjelaskan tentang keberkahan dalam sahur, ditinjau dari berbagai sisi, sebagai berikut :

Mengikuti sunah Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam.

Pembeda dengan puasa ahli kitab, berdasarkan hadis dari Amru bin Al Ash dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam beliau bersabda, "Pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahli Kitab ialah makan sahur." (HR. Muslim).

Menguatkan badan dalam melaksanakan ibadah puasa.

Menambah semangat agar semakin rajin beribadah.

Menjauhkan dari akhlak atau perangai uang jelek yang dapat timbul akibat rasa lapar.

Dapat menjadi sebab untuk bersedekah kepada yang membutuhkan makanan sahur, atau dapat juga menjadi kesempatan untuk makan bersama-sama mereka.

Menjadi sebab menjalankan zikir dan doa pada waktu yang merupakan saat mustajab terkabulkannya doa.

Waktu sahur dapat digunakan untuk menyusuli niat puasa bagi mereka yang lalai niat berpuasa sebelum tidurnya. (Fath al-Baari IV/140)

Pujian Allah Taala dan doa para malaikat terhadap orang-orang yang sahur

"Dari Abu Said Al-Khudri radiyallahu anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Makan sahur adalah barakah. Maka janganlah kalian meninggalkannya meskipun salah satu di antara kalian hanya minum seteguk air. Sesungguhnya Allah taala dan para malaikat-Nya bershalawat atas orang-orang yang sahur." (HR. Ahmad, hadits hasan, lihat Shahihul Jamiish Shaghir, 1/686 no. 3683).

Waktu Sahur

Waktu yang utama untuk makan sahur adalah dengan mengakhirkan waktunya hingga mendekati terbit fajar. Dan mengakhirkan waktu sahur ini merupakan sunah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagaimana hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit radiyallahu anhu, beliau bekata:

"Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian (setelah makan sahur) kami berdiri untuk melaksanakan shalat. Aku (Anas bin Malik) berkata: Berapa perkiraan waktu antara keduanya (antara makan sahur dengan shalat fajar)? Zaid bin Tsabit radiyallahu anhu berkata: 50 ayat." (Muttafaqun alaih)

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan dalam Shahih Al-Bukhari:

"Bab perkiraan berapa lama waktu antara sahur dengan salat fajar". Maksudnya (jarak waktu) antara selesainya sahur dengan permulaan salat Fajar. (Fathul Bari, 4/164)

Dan hal ini sebagaimana telah diterangkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih Al-Bukhari pada kitab Tahajjud, dari Anas bin Malik radiyallahu anhu, beliau ditanya:

"Berapakah jarak waktu antara selesainya Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Zaid bin Tsabit radiyallahu anhu makan sahur dengan permulaan mengerjakan salat (subuh)? Beliau menjawab: Seperti waktu yang dibutuhkan seseorang membaca 50 ayat (dari Alquran)."

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari (4/164) menyebutkan: "(Bacaan tersebut) bacaan yang sedang-sedang saja (ayat-ayat yang dibaca), tidak terlalu panjang dan tidak pula terlalu pendek, dan (membacanya) tidak cepat dan tidak pula lambat".

Bila kita sebutkan dengan catatan waktu maka kira-kira jarak antara keduanya 10-15 menit. Wallahu alam.[]

Komentar

Embed Widget
x