Find and Follow Us

Senin, 14 Oktober 2019 | 03:24 WIB

3 Hal Penting Saat di Tengah Badai Kehidupan (1)

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 13 Mei 2019 | 00:02 WIB
3 Hal Penting Saat di Tengah Badai Kehidupan (1)
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

KEMARIN saya diminta hadir di acara Safari Ramadlan dan Buka Bersama dengan Panglima TNI dan Kapolri. Hadir banyak sekali para jenderal dan pejabat tinggi serta para prajurit. Orang tua masyarakat Jawa Timur, yakni Ibu Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur juga rawuh.

Alim Ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakatpun hadir. Anak-anak yatim juga hadir meramaikan acara ini. Saya senang melihat keguyuban dan kekompakan seperti ini. Semoga bukan hanya dzahirnya melainkan juga batinnya.

Saya berkesempatan memberikan taushiyah Ramadhan dengan durasi yang tak begitu panjang, alias singkat. Agak bingung juga untuk memilih apa yang harus disampaikan dari apa yang sudah ada dalam pikiran. Allah berkehendak, mulutpun terbuka sendiri berbicara tentang 3 hal penting yang sangat esensial dilakukan saat manusia berada dalam kondisi genting, keadaan sedih menderita, diterpa banyak isu dan masalah. Dengan tiga hal ini, maka semua masalah tak lagi menjadi masalah, air mata berubah menjadi mutiara, kebencian menjadi cinta.

Uraian saya merupakan gabungan penjelasan dari perspektif psikologi dan dalil-dalil nash. Hal pertama yang harus dilakukan adalah BERDOA. Mengetuk pintu langit dan berbisik pada bumi melalui sujud merupakan langkah jitu untuk menjalani dan mengatasi persoalan hidup.

Doa adalah senjata dahsyat yang efeknya di luar dugaan manusia. Ketika pertolongan Allah tiba melalui doa, ada banyak keajaiban yang mungkin terjadi. Nabi Yusuf keluar dari penjara bukan dengan cara membongkar gembok atau merubuhkan tembok penjara, melainkan cukup melalui ilmu takwil mimpi yang Allah berikan kepadanya.

Nabi Musa terbebas dari ularnya para tukang sihir dan dari kejaran Fir'aun dengan balatentaranya bukan dengan senjata super canggih, melainkan hanya dengan berkah perantara tongkat yang bisa menjelma menjadi ular dan bisa memecahkan lautan. Berikut juga Nabi Ibrahim bisa selamat dari kobaran api bukan karena beliau memakai baju anti terbakar api atau perisai lainnya, melainkan hanya cukup dengan doa dan kayakinan yang luar biasa akan kasih sayang serta pertolongan Allah.

Masihkah kita ragu akan kedahsyatan doa? Bukankan kisah-kisah kekinian juga banyak menyodorkan testimoni kedahsyatan doa? Saat kebakaran dahsyat di sebuah kampung, ada satu rumah yang berada di tengah perkampungan itu yang tidak termakan api. Saat diusut, pada saat kebakaran itu, tuan rumahnya berdoa dan membaca ayat kursi seraya memohon perlindungan Allah.

Seorang tukang tembel ban yang setiap malam berdoa ingin berangkat ke Mekah walau menurut hitungan matematika tidaklah mungkin mampu ternyata ditakdirkan Allah berangkat dengan kisah yang sangat unik. Saat tahajjud tengah malam, ada orang mengetuk pintu meminta tolong menembel ban mobilnya yang bocor terkena paku. Dua minggu kemudian pemilik mobil kembali menghadiahi umroh karena usahanya sukses tak terlambat waktu kontrak berkah penembelan ban malam itu.

Masih ragukah akan kedahsyatan doa? Saya masih punya sekian banyak kisah kekinian tentang dahsyatnya daya doa ini. Jangan remehkan doa. Meremehkan doa adalah meremehkan Allah, Dzat yang kita mohon untuk mengabulkan doa itu. Andai semua anak negeri ini berdoa bersama mengetuk pintu langit, sungguh damai dan sejahteralah bangsa kita ini. Semoga setiap doa kita dikabulkan Allah. Tersenyumlah. Salam, AIM [Bersambung]

Komentar

Embed Widget
x