Find and Follow Us

Selasa, 23 Juli 2019 | 22:42 WIB

Kenapa Dakwah Susah Menyentuh Hati & Merubah Diri?

Sabtu, 11 Mei 2019 | 18:00 WIB
Kenapa Dakwah Susah Menyentuh Hati & Merubah Diri?
(Ilustrasi)

KITA barangkali yang kurang dalam keikhlasan, sehingga dakwah kita sulit diterima di masyarakat, termasuk orang-orang dekat kita. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa amar maruf nahi mungkar adalah amalan yang paling mulia dan afdhal. Amalan seperti itu dituntut untuk dijadikan sebaik-baik amal sebagaimana disebut dalam ayat,

"Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk: 2). Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah, amalan tersebut adalah amalan yang paling ikhlas dan paling benar (sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam). Kata Fudhail, jika amalan tersebut itu ikhlas namun tidak benar (tidak sesuai tuntunan), maka tidak diterima sampai amalan tersebut ikhlas dan benar (sesuai tuntunan). Yang dimaksud amalan yang khalish adalah amalan yang ikhlas karena Allah. Sedangkan yang dimaksud shawab adalah yang sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. (Majmuah Al-Fatawa, 28: 134)

Kita barangkali yang kurang dalam keikhlasan, sehingga dakwah kita sulit diterima di masyarakat, termasuk orang-orang dekat kita. Ingat, ikhlas itu sebab paling besar diterimanya suatu penyampaian. Al-Baihaqi dalam Al-Madkahl ila Ilmi As-Sunan, 1: 42 berkata:

Aku pernah mendengar Abu Abdurrahman As-Silmi, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Muhammad bin Ahmad Al-Fara berkata bahwa ada yang bertanya pada Hamdun Al-Qasshar: "Kenapa sampai perkataan ulama salaf di masa silam lebih terasa manfaat daripada perkataan kita?" Ia berkata, "Karena mereka ketika berucap hanya untuk meraih kejayaan Islam, supaya diri mereka mendapat keselamatan, dan mereka hanya cari ridha Ar-Rahman. Sedangkan kalau kita berucap hanya mencari ketenaran diri, hanya cari kepuasan dunia dan cuma berbicara menyesuaikan selera manusia yang mendengar."

Ikhlas itu akan membuat amalan itu lebih langgeng. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, "Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal." (Dar-ut Taarudh Al Aql wan Naql, 2: 188). Para ulama juga memiliki istilah lain, "Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng." Ada juga perkataan dari Imam Malik,

Para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzibi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, "Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?" Jawaban beliau, "Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng." (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho Imam Malik, 3: 521).

Coba lihat Imam Nawawi, meskipun umurnya singkat, namun ilmunya terus kekal dan langgeng. Karya beliau yang begitu masyhur seperti Hadits Arbain An-Nawawiyah, Riyadhus Sholihin dan Syarh Shahih Muslim. Bahkan kita dapati beliau punya karya dalam berbagai bidang ilmu. Itu semua dilakukan beliau karena hanya ingin meraih ridho Allah, bukan ingin disebut orang paling cerdas, bukan ingin pula meraih gelar mentereng atau ingin mendapat balasan dunia semata. Jadi, ikhlas itu begitu penting bagi setiap muslim yang bisa membuat ia terus istiqomah dalam berkarya dan beramal. Begitu pula karena ikhlas, meskipun kita sudah di liang lahat, karya-karya kita akan terus dikenang. Apalagi jika yang kita tinggalkan adalah warisan ilmu agama.

Kesimpulannya, pengaruh ikhlas dalam dakwah adalah: membuat amalan dakwah diterima di sisi Allah; membuat dakwah mudah diterima; membuat pengaruh dakwah langgeng terus menerus. Semoga kita bisa menjaga keikhlasan dalam beramal. [Muhammad Abduh Tuasikal]

Komentar

x