Find and Follow Us

Selasa, 22 Oktober 2019 | 18:56 WIB

Dua Sudut Pandang Tentang Puasa

Oleh : Quraniy | Kamis, 9 Mei 2019 | 02:02 WIB
Dua Sudut Pandang Tentang Puasa
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

TIDAK makan dan tidak minum dan tidak bergaul dengan isteri adalah persepsi awal yang ada dalam benak orang tentang puasa. Atau dengan kata lain, kebanyakan orang memahami puasa hanya sebatas tidak melakukan hal hal yang membatalkannya.

Hakikat puasa tidak lepas dari dua sudut pandang. Ini dibutuhkan untuk bisa memahami arti puasa. Dan kedua sudut pandang ini sama pentingnya. Sudut pandang pertama adalah dari tinjauan fikih. Sudut pandang ini menekankan pada pembahasan sah atau tidak sahnya puasa.

Maka dari itu, sudut pandang fikih puasa berkisar pada syarat dan rukun puasa. Yakni menahan diri dari semua hal yang dapat membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Dan itu merupakan rukun puasa.

Demikian pula dengan pembahasan syarat puasa yang merupakan pembahasan fikih. Syarat puasa sendiri terdiri dari muslim, baligh, berakal sehat, dan seterusnya. Apabila telah tegak rukun dan syaratnya, maka puasanya sah. Telah gugur kewajiban baginya. Dia tidak dikatakan sebagai orang yang berdosa karena meninggalkan puasa.

Kalau kita telaah lebih dalam, sesuai ayat perintah puasa Ramadhan, bahwa puasa dilakukan dengan tujuan akhir ketakwaan bagi para pelakunya. Ini adalah sudut pandang kedua. Yakni bahwa puasa tidak dilakukan melainkan bahwa akhir dari puasa sebulan adalah ketakwaan. Jadi bagaimana puasa kita tidak sekadar menahan lapar, dahaga, dan berhubungan suami-isteri, namun bagaimana agar puasa kita bisa membentuk kita sebagai orang yang bertakwa.

Takwa menyiratkan semangat untuk melakukan ibadah yang diperintah Allah dan untuk menjauhi apa yang Allah larang. Orang berpuasa akan menjumpai akhir Ramadhan dalam keadaan bertakwa bila selama sebulan Ramadhan berpuasa ia melakukan hal-hal yang Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam contohkan. Kita bisa menelaah kitab hadits yang mengisahkan bagaimana puasa Nabi shalallahu alaihi wasallam. Dan awal dari itu semua adalah mempersembahkan puasa kita hanya untuk Allah semata.

Allahu Alam

Komentar

Embed Widget
x