Find and Follow Us

Senin, 14 Oktober 2019 | 03:07 WIB

Kisah Melegenda Seusai Pelantikan Kepala Negara

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Kamis, 9 Mei 2019 | 00:03 WIB
Kisah Melegenda Seusai Pelantikan Kepala Negara
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

SAYA sangat senang berkisah tentang kepala negara (khalifah) yang satu ini, yakni Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tak pernah bosan saya membaca kisahnya dan berbagi dengan para sahabat, kerabat serta saudara karena ada banyak pelajaran hidup yang layak dipetik demi menuju hidup Islami penuh keberkahan. Kali ini kita berkisah satu bagian kecil saja, peristiwa pasca pelantikannya sebagai kepala negara.

Dikisahkan bahwa sesaat setelah beliau dilantik menjadi kepala negara, istrinya masuk menemui beliau. Betapa kagetnya sang istri melihat sang suami menangis. Sang istri bertanya dengan lembut: "Apa terjadi sesuatu padamu wahai suamiku?" Bagaimanakah jawaban sang Khalifah?

Beliau menjawab: "Saat ini saya memegang tanggung jawab mengurusi urusan ummat Nabi Muhammad. Maka saya berpikir tentang orang fakir yang lapar, orang sakit yang kritis, orang yang tak punya pakaian yang tidak diketahui, orang yang tertindas dan terdzalimi, orang yang terasing dan terpenjara, serta orang tua renta. Saya tahu bahwa Allah Tuhanku pasti akan menanyakan itu semua kepadaku, maka saya takut sekali hingga ku menangis."

Subhanallah. Begitu senangnya para rakyat jika mendapatkan pemimpin yang seperti ini, pemimpin yang peduli kepada nasib rakyatnya, pemimpin yang penuh rasa tanggung jawab dan takut sekali salah di hadapan Tuhannya. Pemimpin dengan kecerdasan spiritual seperti ini sungguh akan menjadi modal besar turunnya keberkahan dan pertolongan dari Allah SWT. Allah akan lunakkan hati rakyatnya untuk bersama-sama menjadi manusia penuh berkah.

Cobalah baca bagaimana kisah selanjutnya pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Azis. Masih banyakkah orang-orang miskin di masa kepemerintahannya? Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa beliau sendirilah yang miskin dan menjadi kurus kering sementara rakyatnya menjadi kaya, makmur sejahtera. Mengapa bisa seperti itu? Mari kita rajin mengaji sejarah. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x