Find and Follow Us

Senin, 14 Oktober 2019 | 03:02 WIB

Manusia Unik Penuh Misteri

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Senin, 6 Mei 2019 | 00:03 WIB
Manusia Unik Penuh Misteri
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

SAYA bersyukur tadi malam berjumpa dengan kakeknya Mat Kelor. Di usianya yang sudah menginjak angka 86 ini, beliau tergolong sangat sehat. Semua orang tahu bahwa beliau adalah tipe pendiam. Jarang sekali kalimat selain istighfar dan shalawat terucap dari mulutnya.

Kata banyak orang: "Batuknya lebih sering terdengar dibandingkan ocehannya." Ntah bagaimana ceritanya kok cucunya yang terkenal dengan nama Mat Kelor menjadi ahli berceloteh, tak seperti kakeknya. Mat Kelor pernah berkata: "Saya dipaksa menjadi penafsir diamnya kakek saya."

Memang kakeknya Mat Kelor ini tergolong manusia aneh. Sudah terkenal suka diam, masih banyak saja orang bertamu berkonsultasi. Tak ada kata-kata yang diucapkan sebagai jawaban atas pertanyaan orang. Biasanya, sikap dan gerakan tubuhnyalah yang ditafsirkan sebagai jawaban.

Seorang tamu yang datang mengeluhkan teman dan tetangganya yang memusuhinya cukup diberinya sabun dan diisyaratkan untuk pergi. Mat Kelor yang menafsirkan maknanya bahwa sang tamu itu disuruh membersihkan hati, ucapan dan perilakunya sendiri maka masalah akan selesai.

Seorang tamu lainnya datang mengeluhkan istrinya yang suka marah dan membentak dirinya sebagai suami. Saya perhatikan sang kakek, bagaimana reaksinya. Beliau ternyata bangkit menuju dapur lalu memukul-mukul panci dan wajan sekitar 5 menit. Lalu tamu itu diisyaratkan pulang. Mat Kelor menafsirkannya bahwa masalah utamanya adalah belanja dapur yang tak terpenuhi secara layak. Kalau dipenuhi maka istri akan ramah dan tak lagi marah. Saya kagum dengan kolaborasi kakek dan cucunya ini.

Tiba giliran saya yang sebenarnya hadir bukan untuk konsultasi, cuma ingin akrab saja. Iseng-iseng saya bertanya kepada beliau tentang Pilpres yang baru berlangsung itu; siapakah yang akan terpilih sebagai presiden? Beliau lama diam membisu dan diam tak bergerak. Lalu beliau mengangguk satu kali.

Saya tafsirkan bahwa yang jadi presiden adalah 01. Mat Kelor tersenyum. Lalu sang kakek ketawa dua kali sampai dua gigi depannya terlihat jelas. Saya kaget dan bingung, apa yang akan jadi yang 02 ya? Mat Kelor tertawa melihat kebingungan saya. Lalu saya pamit pulang. Sang kakek menjabat tangan saya dan memeluk erat. Jemari telunjuknya memberikan kode ke perut tangan saya. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x