Find and Follow Us

Rabu, 19 Juni 2019 | 23:58 WIB

Pesona Madura, Keluguan yang Lucu & Lucu yang Lugu

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Sabtu, 4 Mei 2019 | 00:05 WIB
Pesona Madura, Keluguan yang Lucu & Lucu yang Lugu
(Foto: Istimewa)

MESKI dalam urusan Pilpres kemarin orang Madura dikenal sebagai kelompok keras, namun kesan keluguan dan kelucuan orang Madura tetap tidak tergoyahkan. Gus Dur, Emha Ainun Najib, Kiai Hasyim Muzadi adalah di antara tokoh yang berperan besar mengangkat kesan ini.

Sementara saya hanyalah pengikut para beliau saja, ikut serta menceritakan secara verbal dan tulisan keluguan dan kelucuan yang saya alami sendiri. Beda saya dengan para beliau adalah bahwa beliau itu adalah outsider yang mencintai Madura, sementara saya adalah insider yang bangga dengan kemaduraan saya sendiri.

Tadi malam saya memenuhi undangan salah satu santri saya yang lugu dan lucu sekali. Keluguannnya telah mengantarkan kemujurannya. Keinginannya membangun masjid tanpa modal awal apapun terkabul. Ceritanya panjang. Namun bukan ini yang ingin saya ceritakan.

Rumahnya di pelosok Madura harus ditempuh dengan naik turun gunung. Dengan lugu dia berkata di pertengahan jalan dengan bahasa Indonesia yang kenyal aroma Maduranya: "Kiai jangan kaget ya. Rumah saya tabing perrng (anyaman bambu)." Saya jawab bahwa itu bukanlah masalah sepanjang hati lega bahagia. Dia pun tersenyum.

Tibalah saya dan tim di rumahnya yang faktanya tak jauh dari yang diceritakan. Suguhan dikeluarkan. Beragam buah-buahan mahal dihidangkan, makanan kebuli lengkap pun disuguhkan. Sebelum ditanya dia menjelaskan bahwa buah itu dari Surabaya, sedangkan nasi arab itu adalah bikinan para TKW lulusan Saudi.

Hampir semua penduduk di daerah itu adalah lulusan Jedah dan Mekah. "Monggo Kiai dicipcipi walau sedikit," katanya. Dicipcipi adalah pembahasaindonesiaan dari bahasa Madura cpcp yang berarti dicoba atau diincip. Saya tersenyum mendengarnya.

Andai saya bukan asli Madura, mungkin kaget dengan bahasa ini, persis sekaget tamu dari Jakarta saat bertamu ke rumah seorang kiai besar Madura yang punya banyak rumah. Sang tamu bertanya kepada santri khaddam (penjaga dan pengabdi rumah tangga kiai): "Kiai ada di mana mas santri?" Santri yang asli desa itu menjawab dengan singkat dan padat: "Dalem laut." Sang tamu kaget dan tak percaya mana mungkin kiai tinggal di dalam laut.

Setelah didesak maksudnya apa, ternyata santri itu bermaksud menyatakan bahwa kiai ada di dhalem (rumah, ini bahasa halusnya rumah dalam bahasa Madura dan bahasa Jawa) laut (pembahasaindonesiaan tak benar dari bahasa Madura LAO' yang bermakna selatan). Kiai ada di rumah selatan, maksudnya.

Menariknya, kata-kata yang mengundang tawa itu diucapkan datar dan tanpa rasa bersalah. Yang mendengar biasanya melakukan dua respon: cengar cengir atau bingung. Persis seperti polisi mencegat suami istri yang boncengan sepeda motor. Sang suami dengan gemetar bertanya dengan intonasi Madura yang kental: "Salah saya apa pak polisi, SIM berada, helm berdua." Maksudnya: "SIM ada dan helm sama-sama pakai." Polisinya tertawa dan mempersilahkan keduanya melanjutkan perjalanan. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x