Find and Follow Us

Rabu, 19 Juni 2019 | 23:48 WIB

Harga Bahagia Semakin Mahal

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 3 Mei 2019 | 00:08 WIB
Harga Bahagia Semakin Mahal
(Foto: Ilustrasi)

DULU saat saya masih kecil, hidup di perkampungan Madura, sangat mudah sekali menemukan potret kehidupan santai bahagia. Penduduk desa istirahat siang hari sepulang bekerja di sawah sejak pagi hari.

Istirahatnya adalah dengan duduk di depan langgar atau duduk di 'lenchak preng' (ranjang bambu) di bawah pohon sambil bicara santai urusan pertanian. Diskusinya adalah hal sederhana, tak ada yang berkaitan dengan politik. Politik adalah barang mahal urusan 'bapak-bapak' Jakarta, kata mereka.

Pagi-pagi sebelum berangkat kerja ke sawah dan kebun, masyarakat kampung saya terbiasa bercanda dengan merpati dan burung perkutut, menyediakan makan ayam dan bebek, lalu duduk sejenak sambil menikmati kopi sisa semalam. Sahar (bubuk) kopi dalam cangkirnya sebagian dioleskan ke rokoknya sebelum disulut korek api, menambah aroma kata mereka. Lalu mereka tersenyum, bersyukur alhamdulillah. Sungguh tak mahal modal bahagia mereka.

Kini, setiap kali saya pulang ke Madura, kesederhanaan bahagia seperti di atas tak lagi mudah ditemui. Diskusi, lebih tepatnya, cangkruan, mereka tak lagi di serambi langgar dan di bawah pohon, melainkan di warung-warung dan toko-toko atau pinggir lapangan.

Diskusinya tentang politik yang beritanya diakses melalui handphone pintar yang mereka miliki. Youtube menjadi sumber utama rujukan mereka. Senyuman tak lagi mudah ditemukan, debat urat leher dipertontonkan di mana-mana, sahar kopi sisa semalam tak lagi laku di minum pagi hari. Senyum bahagia menjadi mahal.

Bagaimanakah dengan kebahagiaan kita? Berbiaya murah kah atau mahal dan mahal sekali? Bahagimana cara bahagia dengan kesederhanaan dan sederhana dalam kebahagiaan? Mari kita ikuti ulasan selanjutnya. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x