Find and Follow Us

Senin, 21 Oktober 2019 | 22:25 WIB

Alquran Sebagai Wahyu dan Ilmu Pengetahuan

Rabu, 1 Mei 2019 | 06:00 WIB
Alquran Sebagai Wahyu dan Ilmu Pengetahuan
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

PENYEJAJARAN; dalam arti membuatnya menjadi sejajar setelah lama yang satu dianggap berada di level bawah yang lain, antara teori-fakta sains modern dengan ayat-ayat suci Alquran dirintis Maurice Bucaille. Penulis Prancis yang kemudian hari digolongkan dalam aliran besar apologetic ini juga melakukan interpretasi ilmiah yang bisa diuji dalam eksperimen.

Hal itu juga akan kita temukan dalam buku karangan Agus Purwantoini. Dengan latar belakang seorang doktor fisika partikel Universitas Hiroshima, sekaligus seorang aktivis Masjid Salman yang gemar mengkaji Alquran, Agus mencoba menafsirkan ayat-ayat kauniyah Aquran dari perspektif sains modern. Tidak heran bila bentuk penafsirannya banyak menyoal seputar bidang yang ia geluti, seperti mekanika kuantum, transendensi, relativitas, dan kosmologi.

Upaya Agus adalah menjelaskan mata rantai antara Alquran sebagai wahyu Allah dan ilmu pengetahuan sebagai hasil olah pikir rasio manusia. Ia sendiri mengakui, penulisan buku itu bermula dari keprihatinannya. Agus melihat betapa sebagian besar kaum Muslim dewasa seolah telah melupakan ayat-ayat kauniyah yang ada di alam ini.

Padahal bukankah Allah SWT sendiri telah berfirman, "inna fi khalqis-samawt wal-ardli wakh-tilfil layli wan-nahri la ayatin li ulil albab. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir? (QS Ali Imran:190).

Dibanding menjawab pertanyaan Allah, yakni: apakah kamu tidak berpikir? Afala tafakkarun?; dalam penilaian penulis, mereka lebih memfokuskan diri pada wacana-wacana kajian ayat-ayat seputar keyakinan dan praktik ritual keagamaan (akidah dan fikh). Tidak heran jika judul buku ini tak meluputkan kalimat, "Sisi-sisi Alquran yang terlupakan". Penulis menganggap ayat-ayat kauniyah jarang memperoleh perhatian dari kaum muslim sendiri.

Karena itulah, di buku ini setidaknya terdapat kajian 800 ayat-ayat kauniyah dari Alquranyang diklasifikasi berdasarkan subjeknya. Klasifikasi itu misalnya berdasarkan alam, tumbuhan, dan hewan, dari A sampai Z . Untuk abjad A saja, sebagai contoh, ada soal air, yang terdapat pada Q.S 2:164, Q.S 7:160, Q.S 2: 74, Q.S 29: 63 dan seterusnya.

Itulah cara Agus memberi alternatif di saat universalitas Alquran direduksi hanya menyangkut persoalan fikih, tasawuf dan politik (siyasah) saja. Inilah cara Agus, yang dengan kepakaran dalam fisika teori, berusaha melihat keunggulan Islam dari sisi yang lain. Kesadarannya sebagai seorang saintifik muslim, Agus yakin bahwa kebangkitan Islam saat ini hanya dapat diwujudkan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam buku ini Agus juga membeber bukti tentang luluh lantaknya Afghanistan dan Irak yang justru oleh produk sains Negara-negara Barat, khususnya AS dan Inggris. Di sisi lain, negara-negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia umumnya memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Tapi kelimpahruahan tersebut tidak pernah berarti kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Sebabnya satu: umat Islam tidak menguasai ilmu pengetahuan baik teoritis maupun praktis (hal 24-25).

Dibantu tafsir al-Jawahir karya Guru Besar Universitas Kairo, Syaikh Jauhari Thanthawi, Agus menggedor kesadaran umat Islam utamanya kalangan akademisi bahwa ada ratusan ayat kauniyyah dalam Alquran yang terselip di antara 6236 ayat.Sementara ayat-ayat fikih tidak lebih dari 150 ayat saja.

Tapi anehnya, mengapa para ulama lebih banyak menghabiskan energinya untuk membahas persoalan fikih yang justru sering memicu perseteruan dan konflik antar umat Islam daripada membahas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan dan kelap-kelipnya bintang, gerak awan di langit, kilat dan petir yang menyambar, malam yang gelap gulita dan fenomena keajaiban alam lainnya.

Wajar bila berbagai pujian mengalir deras untuk kehadiranbuku ini. Terry Mart, seorang fisikawan UI penerima Habibie Award untuk Ilmu Dasar (2001), menilai buku ini sebagai buku pertama yang ditulis seorang fisikawan partikel teori Indonesia.

Karena itu, menurut Terry, buku ini, "Patut menjadi bacaan bagi siapa saja yang ingin mengetahui pertemuan antara alam logika bebas dan alam wahyu ilahiah, dilihat dari sisi fisika." Sementara Dr. Jalaluddin Rahmat (Kang Jalal) menyebut buku ini sebagai "Ajakan terhadap kaum Muslim untuk menaruh perhatian pada sains sebagai panggilan Ilahi."

Mencari buku ini di deretan rak di toko buku pun sangatlah mudah. Buku ini menyolok, karena tampildengan desain cover yang sungguh menarik. []

Judul buku : Ayat-Ayat Semesta: Sisi-sisi Alquran yang Terlupakan
Penulis : Agus Purwanto, D.Sc.
Penerbit : Mizan, Bandung
Tahun : Cetakan 2, Februari 2015
Tebal : 447 halaman

Komentar

Embed Widget
x