Find and Follow Us

Selasa, 22 Oktober 2019 | 18:39 WIB

Anakku, Aku Serahkan Engkau kepada Allah

Selasa, 30 April 2019 | 08:00 WIB
Anakku, Aku Serahkan Engkau kepada Allah
(Ilustrasi)
facebook twitter

SUATU hari, Abu Yazid sedang berada dalam majelis ilmu. Pada saat itu, gurunya menjelaskan makna salah satu surat Luqman, "Bersyukurlah kepada-Ku (Allah) dan kepada kedua orang tuamu." Mendengar bunyi ayat tersebut, hati Abu Yazid tergetar dan segera bergegas izin pamit meninggalkan majelis untuk menemui ibunya.

"Guru, izinkanlah saya pulang untuk mengatakan sesuatu pada ibuku," katanya seraya meletakkan buku catatan. Gurunya mengizinkan, dan Abu Yazid pun bergegas pulang.

"Ada apa anakku? Mengapa engkau pulang?" tanya sang ibu.

"Pelajaranku telah sampai pada ayat yang menjelaskan tentang kewajibanku mengabdi pada-Nya dan pada ibu. Aku tidak akan sanggup mengisi rongga dadaku untuk dua hal sekaligus. Aku tidak akan mampu melaksanakan perintah keduanya secara bersamaan. Maka, berikan aku keputusan, Ibu memintaku sepenuhnya dari Allah, atau Ibu menyerahkanku sepenuhnya untuk Allah."

"Anakku, aku serahkan engkau sepenuhnya kepada Allah dan membebaskanmu dari kewajibanmu padaku. Pegilah, Nak! Jadilah milik Allah sepenuhnya!" Ujar sang ibu berkaca-kaca.

Namun, suatu malam, saat Abu Yazid sedang melakukan shalat tahajud, sang ibu memintanya untuk mengambilkan air minum. Ia yang tengah shalat, sadar bahwa ibunya memanggil. Belum usai merampungkan jumlah rakaat shalat sunnah, Abu Yazid bergegas memenuhi perintah ibunya. Ia segera mengambil air minum untuknya. Namun, tak ada air di teko. Ia pun mengambil kendi, namun tak jua dapat meneteskan air.

Tanpa pikir panjang dan menunggu waktu lagi, ia pun segera menuju sungai dan mengisi kendinya dengan air. Namun, saat kembali ke rumah, sang ibu sudah tertidur.

Malam itu udara begitu dingin. Tapi, Abu Yazid memilih duduk di samping ibunya sembari memegang teko tersebut. Tak lama kemudian sang ibu terbangun. Melihat putranya berada di sampingnya kedinginan akibat teko berisi air itu, sang ibu segera mencium kening anaknya, sembari melantunkan beragam doa.

"Mengapa kau tak letakkan saja teko itu, Nak?" tanya sang ibu haru.

"Aku takut tatkala ibu bangun, aku tidak ada di sisi Ibu," jawab Abu Yazid penuh sesal karena membuat ibunya lama menunggu untuk sekadar mendapatkan air minum.

Komentar

Embed Widget
x