Find and Follow Us

Kamis, 23 Mei 2019 | 12:27 WIB

Bulan Sya'ban, Bulan Diangkatnya Amalan

Senin, 22 April 2019 | 12:00 WIB
Bulan Sya'ban, Bulan Diangkatnya Amalan
(Foto: Ilustrasi)

SAAT ini kita sedang berada di bulan Syaban, atau dalam istilah penanggalan Jawa disebut Ruwah. Satu bulan sebelum tiba bulan mulia yang dirindukan, yaitu bulan suci Ramadhan. Syaban, meski sering terabaikan karena diapit oleh dua bulan yang mulia yaitu Rojab,l yang menjadi sorotan, karena termasuk salah satu dari empat bulan suci (bulan haram), dan Ramadhan, ternyata ada momentum luar biasa yang terjadi di bulan ini.

Dijelaskan dalam hadis dari sahabat Usamah bin Zaid, dia berkata, "Aku bertanya kepada Nabi, "Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau sering berpuasa dalam satu bulan kecuali di bulan Syaban?"

Beliau menjawab, "Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Syaban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa."

Inilah peristiwa agung yang terjadi di bulan Syaban, diangkatnya amal perbuatan kita oleh malaikat pencatat amal untuk dilaporkan kepada Allah azza wa jalla. Nabi suka saat amalan diangkat kepada Allah di bulan ini, beliau dalam kondisi baik, yaitu mengisinya dengan puasa.

Para ulama menjelaskan, bahwa proses pelaporan amal kepada Allah azza wa jalla terjadi tiga kali:
1. Harian
2. Pekanan
3. Tahunan

Pertama, pelaporan amal harian. Yaitu terjadi dua kali dalam sehari: pagi saat sholat subuh, dan sore saat sholat asar. Dalilnya, hadis dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, "Nabi shallallahualaihi wasallam bersabda,

"Para Malaikat dimalam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian, dan mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian para malaikat yang mengawasi kalian semalam suntuk naik (ke langit). Allah menanyakan kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui dari mereka, "Dalam keadaan apakah kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?" Mereka menjawab, "Kami tinggalkan mereka dalam keadaan mengerjakan shalat." (HR. Ahmad 8341, Bukkhari 555, Muslim 1464 dan yang lainnya).

Kedua, pelaporan amal pekanan. Terjadi setiap hari Senin dan Kamis. Sahabat Abu Hurairah radhiyallahuanhu mengabarkan, "Aku pernah mendengar Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, "Amalan-amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Kamis malam Jumat. Orang yang memutus tali silaturahmi, amalannya tidak akan diterima. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Tirmidzi dijelaskan, "Amalan manusia dilaporkan kepada Allah setiap hari Senin dan Kamis. Dan aku suka saat amalku dilaporkan, kondisiku sedang puasa."

Ketiga, pelaporan tahunan. Terjadi di bulan Syaban. Berdasarkan hadis tersebut di atas. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, "Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan orang, terletak antara Rajab dan Ramadan. Padahal Syaban adalah bulan diangkatnya amal kepada Tuhan yang mengatur semesta alam. Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa." (HR. Nasa-i no. 2329)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, "Amalan manusia dalam satu tahun, diangkat pada bulan Syaban. Sebagaimana dikabarkan oleh As-Shodiqul Mashduq (Orang yang jujur lagi dibenarkan, yakni Rasulullah shallallahu alaihi wasallam) bahwa Syaban adalah bulan diangkatnya amal."

Demikian pula amalan dalam sepekan dilaporkan kepada Allah pada hari Senin dan Kamis. Adapun amalan (pent, harian) siang dilaporkan di penghujung siang sebelum malam tiba. Dan amalan malam dilaporkan di penghujung malam sebelum tibanya siang.

Pelaporan amal harian, lebih khusus daripada pelaporan amal tahunan. Ketika ajal seseorang datang, seluruh amal perbuatan yang dia lakukan di selama hidupnya, akan diangkat seluruhnya. Kemudahan lembaran catatan amalnya akan digulung." (Dikutip secara ringkas dari Hasyiyah Ibnul Qayyim alas Sunan Abi Dawud, 12/313)

Seluruh hadis yang menerangkan pelaporan amal, mengandung pesan motivasi untuk menambah amal ibadah di saat-saat amal sedang dilaporkan kepada Allahazza wa jalla. Sebagaimana jawaban Nabi shalallahu alaihi wa sallam saat beliau ditanya mengapa banyak puasa di bulan Syaban,

"Aku ingin, saat amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa" Penjelasan yang sama juga beliau utarakan saat beliau shallallahualaihi wasallam menerangkan alasan puasa di hari Senin dan Kamis.

Demikian pula para Salafussholih dahulu, mereka selalu ingin tampil lebih baik, lebih istimewa di hadapan Allah, saat moment pengangkatan amal. Sampai-sampai mereka khawatir jika keadaan mereka saat itu tidak sedang baik. Ibnu Rajab dalam Latho-iful Maarif menyebutkan kisah sebagian Tabiin, yang setiap hari Kamis menangis curhat kepada istrinya, demikian pula sebaliknya Sang Istri menangis dipangkuan suaminya, seraya berkata, "Hari ini amalan kita dilaporkan kepada Allah." (Lihat : Latho-iful Maarif hal. 191)

Sekian. Wallahualam bis showab. [Ustadz Ahmad Anshori/Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Quran Yogyakarta]

Komentar

Embed Widget
x