Find and Follow Us

Kamis, 23 Mei 2019 | 12:56 WIB

Syahadat, Bukan Sekadar Kalimat Biasa

Minggu, 21 April 2019 | 10:00 WIB
Syahadat, Bukan Sekadar Kalimat Biasa
(Foto: ilustrasi)

LANGIT Yogja belum cukup gelap. Mendung belum juga memenuhi langit. Namun semua terasa sejuk. Para malaikat menurunan sayapnya. Memayungi Sekumpulan orang-orang yang Allah tautkan hatinya kepada ilmu. Masjid Nurul Asri masih seperti biasa, penuh sesak hingga meluap-luap. Banyak jemaah yang tidak kebagian tempat duduk di dalam masjid.

Sore itu masih seperti biasanya, kajian tafsir surat An Nuur bersama Ust. Syatori Abdurrauf AL Hafidz. Kali ini sampai pada ayat ke-57. Semua berjalan biasa, para jemaah duduk rapi memenuhi barisan sambil tertunduk memegang pulpen sambil mengikat ilmu dengan menulisnya. Semua terasa sama, tidak ada yang berbeda.

Hingga menjelang selesainya kajian, ada yang tidak biasa. Kajian yang biasanya diakhiri tepat sebelum azan magrib, kini lebih awal dicukupkan. Lalu ada satu orang maju duduk di hadapan meja tempat ustaz menyampaikan materi kajian. Ada apa?

Melalui pengeras suara, sang ustaz mengumumkan, bahwa hari ini, kami semua yang hadir di sini akan menjadi saksi, kembalinya seorang saudara kami kedalam agama yang haq. Seorang yang tadi berjalan maju dan dan duduk di depan meja akan melakukan ikrar syahadat.

Semua jemaah terdiam, satu dua langsung mengambil kamera untuk mengabadikan momen berharga ini. Terlihat beberapa kepala mendongak ke atas berharap bisa menyaksikan ikrar syahadat itu secara langsung. Prosesi ini memang luar biasa dan selalu begitu.

Asyhadu Alla Ilahailallah Wa Asyhadu Anna Muhammadarrasulullah

Artinya: Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Semua terdiam, beberapa ikut meneteskan air mata saat kalimat romantis itu diikrarkan. Ya, syahadat memang luar biasa. Kalimat ini bukan sekadar kalimat biasa yang bisa diucapkan siapa saja. Syahadat membuat apa-apa yang dulunya boleh menjadi haram dan terlarang. Membuat yang dulunya tidak boleh menjadi kewajiban yang harus dilakukan. Membalik apa-apa yang bernilai biasa, menjadi bernilai ibadah.

Memang ini mungkin tidak seheroik kisah Abu Thalhah saat memberikan mahar keimanan kepada ummu Sulaim, namun kapan pun dan oleh siapa pun syahadat itu diikrarkan, ini menjadi kalimat paling romantis dari seorang manusia yang kembali datang menghamba kepada Tuhannya.

Semoga setelah ini akan ikrar-ikrar selanjutnya hingga terus bertambah dan bertumbuh jiwa-jiwa yang mendekat kepada Rabb-nya.[Fimadani]

Komentar

Embed Widget
x