Find and Follow Us

Minggu, 21 Juli 2019 | 13:24 WIB

Senantiasa Melindungi Rasul, Wafat dalam Kekafiran

Sabtu, 20 April 2019 | 14:00 WIB
Senantiasa Melindungi Rasul, Wafat dalam Kekafiran
(Foto: Ilustrasi)

RASULULLAH shallallahu alaihi wa sallam adalah manusia yang paling ridha terhadap takdir Allah. Beliau adalah teladan, bagaimana selayaknya seseorang bersikap dalam menghadapi ujian hidup. Tapi, beliau juga memiliki sisi manusia umumnya. Merasakan apa yang dirasakan manusia biasa. Beliau merasakan lapar, sakit, perih karena luka, dan bersedih.

Di antara peristiwa yang membuat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat bersedih adalah wafatnya paman beliau, Abu Thalib. Terlebih sang paman wafat dalam keadaan masih memegang agama jahiliyah. Abu Thalib adalah kerabat dan orang terdekatnya. Abu Thaliblah yang mengasuh Nabi sejak berusia 8 tahun. Saat sang kakek meninggal hingga Nabi berusia 40-an tahun. Kedekatan yang luar biasa dengan sang paman terjalin sedari kanak-kanak hingga masa kenabian.

Saat Nabi Muhammad menerima wahyu dan mendakwahkannya. Cinta Abu Thalib kepada anak saudaranya itu tak berubah. Walaupun ajaran yang dibawa sang keponakan bertentangan dengan keyakinannya. "Langkahi dulu mayatku, kalau berani mengganggu keponakanku", kira-kira seperti itulah bentuk perlindungannya. Ia bagaikan sosok seorang ayah yang melindungi. Tidak heran, Nabi Muhammad sangat menginginkan hidayah untuknya.

Saat Abu Thalib menderita sakit yang mengantarkannya pada kematian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terus berjuang agar sang paman mendapatkan kebahagiaan setelah kematian. Dengan cara menawarkannnya Islam. Namun, sampai akhir hayat, sang paman tak juga mau bersyahadat. Ia wafat memegang ajaran nenek moyang. Kehilangan sosok paman seperti Abu Thalib adalah duka dan kesedihan. Tapi, lebih sedih lagi, dia yang senantiasa melindungi, wafat dalam kekufuran.

[baca lanjutan]

Komentar

Embed Widget
x