Find and Follow Us

Kamis, 23 Mei 2019 | 12:38 WIB

Jangan Tertipu, Buatlah Skala Prioritas

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Rabu, 17 April 2019 | 03:03 WIB
Jangan Tertipu, Buatlah Skala Prioritas
(Ilustrasi)

HIDUP selalu berhadapan dengan pilihan-pilihan. Orang yang benar dan baik adalah yang memilih yang terbaik dari pilihan yang ada. Karena itu maka kita harus teliti sekali dalam memilih apapun. Pertimbangkan dengan matang sebelum memilih dan bersikap agar tak salah pilih dan tidak tertipu.

Menyusun skala prioritas agenda kegiatan kita adalah sangat penting. Dahulukan yang wajib di atas yang sunnah, yang sunnah di atas yang mubah (boleh). Mengapa banyak ulama yang melarang berebut mencium hajar aswad? Bukan karena mencium hajar aswad itu terlarang, melainkan karena kita wajib tidak menyakiti siapapun. Sementara itu, mencium hajar aswad itu hanyalah berhukum sunnah, dan dalam berebut mencium hajar aswad, seringkali memaksa kita menyakiti orang lain.

Berkenaan dengan ketertipuan diri karena tidak paham skala prioritas ini, Imam Ahmad ibn Athaillah Suandari dalam kitabnya yang terkenal, Hikam, berkata: "Termasuk tanda-tanda mengikuti hawa nafsu adalah bergegas (bersemangat) melakukan hal-hal sunnah namun malas melaksanakan kewajiban-kewajiban."

Cobalah renungkan baik-baik dawuh berhikmah tersebut. Bisa dipastikan kita akan geleng kepala karena sering memasukkan diri pada tanda-tanda itu, kebutuhan primer tak dipenuhi, kebutunan sekunder bahkan tersier dipenuhi secara berlebihan. Contohnya adalah ada orang merasa tidak kuat menyekolahkan anak, namun handphone dan perhiasan emasnya sangat berkelas.

Ada banyak contoh lainnya, yakni orang yang rajin merapikan giginya dengan kawat-kawat yang mahal namun enggan merapikan hati dan shalatnya dengan ikut kajian dan pengajian agama yang bahkan tak berbayar. Ini sekedar salah satu contoh. Rajin baca koran namun malas membaca al-Qur'an adalah contoh yang lain. Sungguh banyak di antara kita yang tertipu.

Ada lagi yang cukup marak dan menjadi gaya hidup yang seakan benar dan baik namun sesungguhnya salah dan tertipu, yaitu semangat bershadaqah namun malas membayar utang. Bershadaqah itu sunnah, sementara membayar hutang itu wajib. Apakah orang yang mempunyai utang itu tak boleh bershadaqah? Bukan itu poin saya. Tentu saja boleh, dengan catatan ada kalkulasi yang matang bahwa semangat membayar hutangnya tak kendor dan proses membayar hutangnya terencana dengan baik. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x