Find and Follow Us

Selasa, 22 Oktober 2019 | 11:01 WIB

Kerjasama dengan Jin yang Mengaku Muslim

Kamis, 18 April 2019 | 15:00 WIB
Kerjasama dengan Jin yang Mengaku Muslim
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

SEMENJAK zaman Nabi Sulaiman 'alaihissalam, sesunguhnya jasa para jin tidak diperlukan lagi buat umat manusia. Beliau adalah nabi yang secara khusus mendapatkan kekuasaan hingga ke tingkat bangsa jin. Sedangkan nabi dan umat yang lain, tidak diberikan 'fasilitas' itu. Di hadapan nabi yang juga raja ini, para jin harus tunduk dan patuh, karena beliau memang punya kekuatan yang melebihi kekuatan para jin. Oleh sebab itu, tidak ada seorang jin pun yang berani menipu atau melawan beliau.

Berbeda dengan kita yang tidak diberikan kekuasaan untuk mengatur bangsa jin. Posisi kita tentu berbeda dengan posisi nabi Sulaiman. Kita lebih mudah ditipu atau dikelabui oleh bangsa jin. Mereka punya kekuatan yang di luar jangkauan manusia. Sementara kita hanya mampu sekedar berlindung kepada Allah dari kejahatan mereka. Jadi kita tidak bisa secara aktif melakukan berbagai langkah untuk mematikan mereka, juga tidak bisa mengejar mereka ke sarangnya untuk kemudian melakukan pembasmian.

Seandainya ada jin yang melakukan kejahatan, maka kita tidak diberi perangkat oleh Allah Ta'ala untuk menegakkan hukum. Mau ke mana mengejarnya? Bayangkan kalau ada ribuan jin jahat melakukan kejahatan, bagaimana cara kita memenjarakannya? Yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasllam hanya sekedar berlindung dari kejahatan para jin, sebagaimana yang kita baca dari dua surat yang terakhir di dalam Alquran. Kita tidak diberi perangkat untuk bisa mematikan dan membumi hangus mereka.

Oleh karena itu, kita tidak diberikan peluang oleh Allah Ta'ala untuk melakukan proyek-proyek kerjasama dengan bangsa jin, meski mereka mengaku beragama Islam. Kalau pun ada kerjsama, mungkin terjadi secara tidak langsung. Misalnya, ada ulama dari kalangan manusia yang mengajar ilmu agama, lalu sebagian dari bangsa jin ikut duduk mendengarkan dan mengambil manfaat dari majelis ilmu itu. Hal seperti ini boleh dibilang kerjasama, tetapi sifatnya tidak langsung.

Sedangkan kerjasama yang sifatnya langsung, rasanya belum pernah kita temukan contohnya, bahkan dari nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sekali pun. Beliau hanya pernah diundang oleh bangsa jin untuk menyampaikan ilmu agama saja. Itu pun hanya untuk satu malam saja. Namun dalam sirah nabawiyah, kita belum menemukan kerjasama dakwah atau apapun dengan bangsa jin. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjalani ratusan pertempuran dalam hidupnya. Logika sederhana kita akan mengatakan, seharusnya beliau gunakan saja jasa para jin. Toh banyak jin yang beragama Islam dan menjadi murid beliau.

Namun belum pernah ada riwayat yang menyebutkan bahwa sebuah perang diikuti oleh bangsa jin. Kalau pun ada bantuan dari makhluk gaib, bukan jin melainkan malaikat. Sebagaimana yang kita baca dalam ayat berikut ini: "Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir." (QS. At-Taubah: 36)

Oleh karena itu, kami kurang sependapat bila ada orang yang ingin melakukan kerjasama dengan bangsa jin, bahkan meski jin itu mengaku sebagai muslim. Sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah mengajarkannya atau mencontohkannya. Apalagi mengingat bahwa jin itu bisa saja mengaku muslim, tetapi belum tentu pengakuannya benar. Bahkan meski dia benar-benar muslim sekalipun, belum tentu kualitas keIslamannya baik. Sebagaimana manusia muslim, ada yang baik dan ada juga yang tidak baik. Maka bangsa jin juga demikian. Belum tentu yang mengaku muslim juga berakhlaq Islami. Banyak dari mereka yang fasik, jahil, bandel dan rusak akhlaknya.

Maka tidak pernah ada jaminan bahwa kerjasam dengan jin itu akan memberikan manfaat. Sedangkan kerugiannya sudah banyak terjadi. Wallahu a'lam bishshawab. [Ahmad Sarwat, Lc]

Komentar

Embed Widget
x