Find and Follow Us

Jumat, 23 Agustus 2019 | 10:13 WIB

Bolehkah Menggabungkan Niat Dunia dan Akhirat?

Oleh : Quraniy | Rabu, 10 April 2019 | 02:02 WIB
Bolehkah Menggabungkan Niat Dunia dan Akhirat?
(Foto: ilustrasi)

ALLAH memberikan banyak keutamaan atau fadilah terhadap amal shaleh yang disyariatkan oleh-Nya. Seperti misalnya dalam hal mendirikan shalat fardhu, maka tidak hanya pahala sebatas melaksanakan kewajiban, namun juga terdapat banyak janji pahala dari Allah bagi para pelakunya. Semua keutamaan yang ada dari berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah hingga pulang kembali ke rumah, kita akan mendapatkannya bila kita meniatkan semua keutamaan tersebut.

Lalu bagaimana dengan amalan mubah yang kita laksanakan, seperti makan, minum dan tidur? Apakah ia akan mendapatkan pahalanya? InsyaAllah kita akan mendapatkannya bila kita niatkan sebagai ibadah. Misalnya untuk menunjang kekuatan jasmani kita dalam beribadah, maka kita makan, minum, dan istirahat atau tidur. Ya, kita lakukan semua tersebut dalam rangka meraih ridha Allah sebagai muaranya.

Namun menggabungkan niat menikmati rutinitas dengan mencari keridhaan Allah tentu tak masalah. Namun tentu nilai ibadahnya berbeda dengan apabila kita melakukannya hanya untuk Allah semata. Semakin kita berhasil mengarahkan niat hanya untuk Allah dalam melakukan rutinitas kita, maka semakin besar pula pahala untuk kita. Tentu sebaliknya, bila keinginan kepuasaan jasmani atau pribadi yang mendominasi, atau semakin mendominasi, maka semakin pula nilai ibadah amalan kita.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Ada seorang lelaki hendak menjenguk saudaranya yang tinggal di kampung lain. Maka Allah memerintahkan seorang malaikat untuk mencegatnya di perjalanannya. Ketika lelaki itu melintasi malaikat tersebut, malaikat bertanya, "Ke manakah engkau hendak pergi?". Ia menjawab, "Aku akan menjenguk saudaraku di kampung ini".

Malaikat kembali bertanya kepadanya, "Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang hendak engkau selesaikan darinya?". Orang tersebut menjawab, "Tidak. Hanya saja aku mencintainya karena Allah subhanahu wataala". Mendengar jawaban itu malaikat pun berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu karena-Nya". (HR. Muslim)

Tentu kita tahu bahwa mengunjungi saudara memiliki banyak keutamaan dan manfaat di dunia. Namun lelaki dalam hadits tersebut tidak memiliki niat lain selain karena Allah. Yakni karena ia mencintai saudaranya karena Allah. Karenanya Allah mencintainya. Dan ini merupakan pahala/balasan yang sangat bernilai dan diinginkan setiap orang beriman.

Barangkali bila ia memiliki niatan lain berupa keuntungan materi atau keuntungan dunia, Allah tidak akan mengutus malaikatNya dan tidak akan membalas mencintainya. Allahu Alam. [*]

Komentar

Embed Widget
x