Find and Follow Us

Jumat, 23 Agustus 2019 | 09:15 WIB

Amalan Mubah Bisa Bernilai Ibadah

Oleh : Quraniy | Selasa, 9 April 2019 | 02:02 WIB
Amalan Mubah Bisa Bernilai Ibadah
(Foto: ilustrasi)

RASULULLAH shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Dan dengan melampiaskan syahwat birahimu, engkau bisa mendapatkan pahala". Para sahabat bertanya keheranan, "Mungkinkah dengan melampiaskan syahwat birahi kita mendapatkan pahala karenanya?".

Rasulullah balik bertanya, "Apa pendapat kalian bila ia melampiaskan pada perbuatan haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula sebaliknya, bila ia melampiaskannya di jalan yang halal, maka tentu ia mendapatkan pahala" (HR. Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Pada hadits ini terdapat dalil bahwa dengan niat baik, amalan mubah dapat bernilai ibadah. Hubungan badan, misalnya, bernilai ibadah bila dilakukan dengan niat memenuhi hak istri, atau memperlakukannya dengan cara yang baik sebagaimana yang Allah perintahkan. Demikian juga dengan tujuan mendapatkan keturunan yang juga shaleh, atau menjaga dirinya atau istrinya dari perbuatan haram. Dan bisa juga dengan maksud melindungi keduanya dari memandang hal haram, membayangkan, atau menginginkannya. Atau niat baik lainnya".

Dari hadits beserta penjelasan Imam Nawawi di atas, maka rutinitas yang sebenarnya mubah yang sering kita lakukan, akan dinilai sebagai ibadah dan mendatangkan pahala bila diniatkan untuk kebaikan sesuai yang Allah perintahkan.

Seperti makan dan minum setiap hari. Apabila rutinitas mubah ini kita niatkan dalam rangka membangun kekuatan jasmani untuk mencari nafkah bagi istri dan keluarga, InsyaAllah makan dan minum kita akan dinilai ibadah. Atau dengan niat agar jasmani kita kuat dalam melaksanakan ibadah yang Allah syariatkan. Lain halnya bila kita sekadar hanya menuruti selera perut kita yang lapar.

Maka yang menguntungkan bagi kita adalah sudah semestinya kita menyertakan niat dalam rangka menegakkan syariat atau perintah Allah ketika kita melakukan rutinitas kita. Apabila kita tidak meniatkan sebagai ibadah, niscaya seakan-akan sia-sia belaka. Kesenangan dan kepuasan biologis tercapai, namun tidak dengan pahala Allah Subhanahu wataala. [*]

Komentar

Embed Widget
x