Find and Follow Us

Rabu, 24 Juli 2019 | 01:24 WIB

Mencintai Dua Kekasih

Kamis, 11 April 2019 | 07:00 WIB
Mencintai Dua Kekasih
(Foto: ilustrasi)

SEORANG Sufi pengembara, ditemukan di padang pasir, dibawa ke tenda kepala suku Badui yang liar. "Kau mata-mata musuh kami, dan karena itu kami akan membunuhmu," ujar kepala suku.

"Aku tidak bersalah," jawab Sufi. "Kau lihat pedang ini?" tanya Sufi, menggambar pedang. "Sebelum kau dapat mendekatiku, akan kubunuh salah satu dari orang-orangmu di sini. Jika kulakukan; kau akan memiliki hak yang sah untuk membalas kematiannya. Sementara melakukan itu, aku akan menyelamatkan kehormatanmu, yang saat ini dalam bahaya karena ternoda oleh darah seorang Sufi." [ ]

Mencintai Dua Kekasih?

Fudhail ibnu Ayyadh, dulunya adalah orang gelandangan. Setelah berubah ke kehidupan religius, ia merasa bahwa dirinya menyembah Allah di jalan yang benar dan membayar perbuatan jahatnya, karena itu ia mencari semua korban dan mengganti kerugian mereka.

Suatu hari, ia merasakan pengalaman aneh. Ia meletakkan anaknya di lututnya dan menciumnya. "Apakah engkau menyayangiku?" tanya si anak, "Ya, tentu saja," jawab Fudhail. "Tetapi bukankah engkau juga menyayangi Allah, seperti yang sering engkau katakan padaku?" "Ya, aku yakin demikian," jawab si ayah.

"Tetapi bagaimana, engkau dapat dengan satu hati mencintai dua kekasih?"

Sejak saat itu Fudhail menyadari bahwa apa yang dicintai, sesungguhnya hanyalah sentimentalitas, dan bahwa ia harus menemukan bentuk cinta yang lebih tinggi.

Peristiwa tersebut adalah merupakan asal perkataannya:"Apa yang secara umum dianggap sebagai pencapaian ummat manusia paling tinggi atau mulia, sesungguhnya adalah tingkatan paling rendah dari hal-hal tinggi yang mungkin dicapai bagi ummat manusia." []

Komentar

x