Find and Follow Us

Rabu, 26 Juni 2019 | 09:02 WIB

Apakah Selalu Jelek Memimpikan Nuansa Masa Lalu?

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Sabtu, 6 April 2019 | 00:06 WIB
Apakah Selalu Jelek Memimpikan Nuansa Masa Lalu?
(Foto: Istimewa)

ADA banyak orang yang menganggap rendah orang lain yang memimpikan nuansa atau suasana masa lalu. Mereka sang pemimpi ini dianggap sebagai orang gagap dan gugup dengan kenyataan kini dan akan datang.

Menurut saya belum tentulah demikian. Bisa jadi mereka adalah orang yang paling sadar bahwa ada nilai kehidupan masa lalu yang sangat baik yang saat ini telah tak lagi beredar dalam pergaulan masyarakat. Faktanya, ada banyak yang menyatakan bahwa dalam beberapa hal masa lalu itu lebih indah dan damai. Bukankah kenangan romantis itu melekat pada masa lalu?

Begitu banyak sarjana yang menulis buku dan artikel yang menyatakan bahwa manusia jaman dahulu itu lebih bahagia dibandingkan manusia jaman sekarang. Ada banyak pertanyaan tentang hal ini mengingat begitu banyak kemajuan teknologi dan informasi yang mempermudah hidup. Apakah kemudahan hidup itu tidak mesti linier, satu garis lurus, dengan kebahagiaan? Ternyata jawabannya adalah tidak.

Salah satu pencipta lahirnya bahagia yang kini mulai memudar adalah KEAKRABAN antar sesama. Semakin modern, sepertinya kompetisi kehidupan semakin mengetat, manusia semakin sibuk dengan dirinya, makhluk terakrab dengan dirinya adalah smartphone (HP) dan perangkat kerjanya. Uang kemudian menjadi segala-galanya.

Saya kadang membayangkan kehidupan masa lalu di saat transaksi perdagangan masih belum menggunakan uang, namun pertukaran barang yang disebut dengan barter. Begitu akrabnya masyarakat pada waktu itu. Ketela pohon ditukar dengan ikan laut, beras ditukar dengan alat pertanian, kelapa ditukar dengan peralatan dapur. Mereka sama-sama senang bahagia dan sama-sama merasa punya makna. Kehidupan mereka menjadi akrab karena ada pertukaran dalam wujud yang sempurna.

Pertukaran seperti itu lalu digantikan dengan pertukaran barang dengan uang koin emas dan perak, lalu berkembang enjadi pertukaran antara barang dan uang kertas seperti kertas buku biasa itu. Kini, atas nama efektifitas dan efisiensi, uang kertaspun digantikan dengan uang elektronik yang tak berwujud itu. Akhirnya, pertukaran tak lagi dalam wujudnya yang sempurna. Keakrabanpun tak lagi sempurna, melainkan hanya basa-basi dengan kata-kata indah di media sosial lengkap dengan meme dan gambar yang copy paste dan tak seluruhnya mewakili hatinya. Keakraban menjadi semu, bahkan tiada.

Karena itulah maka kini saya ternyata tidak sendirian dalam memimpikan masa lalu. Ada banyak yang mengimpikan lagi hadirnya nilai-nilai tradisi tradisional itu. Tegur sapa langsung sambil saling melempar senyum, saling kunjung dan saling bertukarbuah tangan, serta saling bantu dan saling doakan merupan nilai lama yang kini mulai memudar. Perlombaan hidup modern melahirkan iri hati dan dengki, cemooh dan caci maki serta membatasi dan menjauhi. Kadang masalahnya hanya hal sederhana, yakni perbedaan pilihan gambar. Naif, bukan? Lalu di mana nilai Pancasila di negeri ini? Salam, AIM. [*]

Komentar

x