Find and Follow Us

Kamis, 23 Mei 2019 | 12:22 WIB

Mengubah Tabiat dengan Kesadaran Diri dan Doa

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Sabtu, 30 Maret 2019 | 00:07 WIB
Mengubah Tabiat dengan Kesadaran Diri dan Doa
(Ilustrasi)

DIKISAHKAN dalam kitab Thabaqat Ibn Sa'd jilid 3 halaman 274 bahwa setiap kali Sayyidina Umar naik mimbar beliau memulai untaian kalimatnya dengan doa: "Ya Allah, saya ini keras maka lembutkanlah saya, saya ini lemah maka kuatkanlah saya, saya ini pelit maka dermawankanlah saya."

Apa yang bisa kita petik dari riwayat singkat tadi? Pertama adalah bahwa tabiat seseorang itu bisa jadi berubah karena kekuatan doa. Doa memiliki cara kerja yang tidak kelihatan namun hasilnya sangatlah nampak. Sayyidina Umar muda yang selalu dikisahkan kegarangan serta kekerasannya ternyata akhirnya diceritakan sebagai pria yang memiliki kelembutan rasa, mudah teteskan air mata kasih sayang. Demikian pula tentang kedermawanan beliau yang luar biasa dalam perjuangan dakwah. Doa memang memiliki daya dahsyat mengubah sesuatu yang sulit berubah.

Hikmah kedua adalah pentingnya pengakuan akan kekurangan diri. Benar bahwa percaya diri itu penting, dan salah satu cara percaya diri itu adalah memahami potensi diri. Namun, sadar diri (self awareness) dalam maknanya yang luas, termasuk menyadari kekurangan diri itu juga penting untuk diupayakan menipis dan hilang hingga akhirnya menjadi lebih baik.

Ketiga adalah bahwa bakhil, pelit, atau kikir itu ternyata merupakan penyakit yang menurut sayyidina Umar termasuk bahaya atau merusak kehidupan. Begitu pedulinya beliau akan penyakit yang satu ini sampai menjadi salah satu poin doa utamanya. Bakhil itu salah satu pencuri kebahagiaan yang harus diwaspadai. Sebaliknya, menjadi loman atau dermawan merupakan salah satu cara utama menuju bahagia.

Alkisah, seorang bakhil memilih tak menikah karena takut hartanya nanti beralih hak kepada isterinya kalau dia meninggal dunia terlebih dahulu. Dia kaya karena dagangannya super laris. Namun karena semangat kerjanya melampaui kewajaran, maka dia jatuh sakit. Saat sakit yang dia khawatirkan mengantarkan kematiannya, semua uang emas yang dikumpulkannya dimakannya sambil berkata: "Aku sulit mengumpulkanmu, aku tak rela membiarkanmu pindah ke lain tangan. Engkau harus ikut aku kemanapun dan sampai kapanpun." Lelaki bakhil ini pun malah lebih cepat mati. Akhir dari kebakhilan adalah mati menderita.

Para pengusung jenazah si bakhil ini terkejut betapa beratnya tubuh mayyit yang satu ini, melampaui kewajaran. Awalnya mereka tak tahu bahwa perutnya berisi koin emas. Namun akhirnya mereka menduga-duga sampai pada saat mayat diletakkan di liang lahatnya. Bagaimanakah nasib koin emas itu berikutnya? Pertanyaan ini membutuhkan tulisan yang lebih panjang lagi. Selamat pagi, salam shadaqah. AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x