Find and Follow Us

Selasa, 20 Agustus 2019 | 08:34 WIB

Belanja Online dapat Free Ongkir, Ribakah?

Selasa, 26 Maret 2019 | 13:00 WIB
Belanja Online dapat Free Ongkir, Ribakah?
(Foto: Istimewa)

JIKA kita buat diagram alir, urutan pembelian dan penjualan sebagai berikut:

Penjual memajang barang A => konsumen memilih barang => Konsumen memasukkan barang ke keranjang belanja => konsumen membeli dengan mentransfer senilai harga barang dan ongkir => penjual mendapat notifikasi dari (Market Place) MP untuk mengirim barang => penjual mengirim barang => barang sampai di konsumen.

Yang menjadi pertanyaan, milik siapakah uang yang tersimpan di (Rekening Bersama) rekber? Setiap property online, tentu saja ada pemiliknya. Dengan melihat skema MP di atas, milik siapakah uang itu?

Karena yang terlibat transaksi ada 3 pihak, maka jawabannya ada 3 kemungkinan,
[1] Milik MarketPlace
[2] Milik Penjual
[3] Milik Konsumen

Dan setiap jawaban tentu saja membawa konsekuensi. Jika kita jawab, uang itu milik MP. Pertanyaan selanjutnya, atas dasar apa pihak MP memiliki uang itu? Apakah dia penjual? Jawabannya: bukan. Apakah dia penerima utang dari konsumen? Sejak kapan konsumen berkeinginan memberi uang pihak MP? Karena itu, jika uang ini kita pahami sebagai milik pihak MP, kita kesulitan untuk memberikan alasan atas dasar apa MP memiliki uang itu.

Jawabannya tinggal dua kemungkinan, antara milik konsumen atau milik penjual. Untuk menentukan ini, anda bisa gunakan teori konsekuensi akad. Jika sudah terjadi akad, berarti telah terjadi perpindahan hak milik antara penjual dan konsumen. Dimana uang itu sudah menjadi milik penjual, dan barang menjadi hak konsumen. Pertanyaan selanjutnya, ketika si A belanja di marketplace, kapan akad jual beli itu terjadi?

Lihat skema dan diagram alir di atas. Ada 3 kemungkinan, kapan akad itu terjadi?
[1] Ketika konsumen menaruh daftar barang yang dia pilih di keranjang belanja
[2] Ketika konsumen mentransfer uang ke rekber
[3] Ketika konsumen menerima barang.

Untuk yang pertama, ketika konsumen menaruh daftar barang yang dia pilih di keranjang belanja, jelas ini bukan akad. Karena itu, sebatas menaruh di keranjang belanja, sama sekali tidak ada ikatan apapun. Untuk yang ketiga, Ketika konsumen menerima barang, ini juga tidak mungkin. Karena di sini konsumen hanya menerima barang dan tidak melakukan akad. Sehingga akad sudah terjadi sebelumnya. Karena itu, jawaban yang paling tepat adalah yang kedua, Ketika konsumen mentransfer uang ke rekber.

Untuk itulah, sudah menjadi aturan dalam transaksi online, ketika konsumen dinyatakan telah deal transaksi jika dia telah melakukan pembayaran dengan cara transfer atau lainnya. Sehingga uang yang mengendap di rekber adalah uang milik penjual dan bukan lagi milik konsumen. Namun penjual belum bisa mencairkan haknya, sampai ada kepastian bahwa barang telah tiba dengan selamat di tempat konsumen. Sehingga uang ini hakekatnya dijadikan jaminan atas transaksi jual beli antara penjual dengan konsumen di MP tersebut.

Kesimpulannya, uang yang mengendap di rekber itu bukan dana pinjaman konsumen ke MP. Sehingga jika konsumen mendapatkan hadiah apapun dari MP, tidak termasuk keuntungan karena transaksi utang piutang.

Demikian, Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits]

Komentar

Embed Widget
x