Find and Follow Us

Rabu, 23 Oktober 2019 | 12:52 WIB

Benarkah Menulis Surat Wasiat Hukumnya Sunah?

Rabu, 27 Maret 2019 | 08:00 WIB
Benarkah Menulis Surat Wasiat Hukumnya Sunah?
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

MUNGKIN sunah ini jarang dipraktikkan kaum muslimin. Yaitu disunahkan bagi seseorang yang sakit agar menulis wasiat. Bahkan menulis wasiat tidak hanya ketika sakit saja tetapi kapan saja ketika ia memiliki sesuatu untuk di wasiatkan.

Misalnya ketika akan berpegian jauh dan lama. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
"Tidak pantas bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang ingin ia wasiatkan untuk melewati dua malamnya melainkan wasiatnya itu tertulis di sisinya."1

Ibnu Umar radhiallahu anhuma berkata, "Semenjak kudengar sabda beliau ini, tidak pernah lewat satu malam pun, melainkan aku sudah mempunyai wasiat".

Hukumnya adalah sunnah dan tidak mesti wasiat seputar harta

Dalam Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah dijelaskan,

"Wasiat hukumnya mustahab/sunnah. Jika ia mempunyai harta yang banyak, disunnahkan berwasiat dengan sepertiga atau seperempat atau seperlima (dari harta tersebut). Atau berwasiat untuk mewujudkan kebaikan dan amal kebaikan. Hukumnya tidak wajib akan tetapi jika ia berkehendak maka sebaiknya ia bersegera menulisnya."2

Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, "Wasiat ditulis jika ia mempunyai sesuatu untuk diwasiatkan adapun jika tidak ada maka tidak diwajibkan baginya"3

Tidak mesti berwasiat saat sakit keras/pengantar ajal saja. Mungkin ada yang salah paham dalam hal ini, mungkin pernah membaca firman Allah Taala,

"Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara maruf , (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 180)

Maka maksudnya adalah wajib meninggalkan harta yang cukup untuk ahli waris ketika meninggal, jika ia memiliki harta dan tidak mewasiatkan kepada yang lain sehingga kerabatnya terlantar.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sadi rahimahullah berkata, "Maksud "taraka khairan" adalah harta yaitu harta yang cukup banyak menurut adat saat itu, dan wajib baginya berwasiat bagi anak dan kerabatnya dengan baik sesuai dengan keadaannya tanpa berlebihan."4

Imam An-Nawawi menukil perkataan Imam Asy-SyafiI rahimahullahu,

"Dianjurkan agar bergera menulis wasiat, menulisnya ketika sehat dan dpersaksikan. Ia tulis sesuai dengan yang dibutuhkan. Jika perkaranya berubah maka ia perbarui wasiat tesebut sesuai keadaan."5

Berwasiat kabaikan dan takwa

Tidak mesti berwasiat mengenai harta, hutang, klaim dan urusan-urusan dunia, tetapi yang lebih penting berwasiat kepada kerabatnya agar bertakwa dan istiqamah dalam agama. Karena wasiat takwa adalah wasiat yang paling mulia, wasiat yang menjamin kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi orang yang berpegang teguh kepadanya.

Tentu lebih mengena jika kita berwasiat kepada keluarga kita dengan tulisan,

"wahai anakku, bertakwalah kepada Allah, jangan nakal ya, tetap semangat belajar dan jangan lupakan akhirat"

"wahai istriku, bertakwalah kepada Allah dan didiklah anak kita agar sukses di akhirat"

Atau wasiat semacamnya dengan kata-kata yang menyentuh dan memberi semangat.

Begitu juga para ulama memberikan wasiat kepada keluarganya semisal agar jangan menangis berlebihan jika saya meninggal, kubur saya jangan di bangun bangunan dan jangan mengadakan peringatan kematian saya dan lain-lainnya. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi wa sallam. []

Catatan kaki

1 Muttafaqun alaih

2 Sumber: http://alifta.org/fatawa/fatawaDetails.aspx?View=Page&PageID=3719&PageNo=1&BookID=5

3 Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/13149

4 Taisir Karimir Rahmah hal. 85, Muassasah Risalah, cet. I, 1420 H, syamilah

5 Syarh An-Nawawi lishahihi Muslim 11/75, Dar Ihya At-Turats, Beirut, cet. II, 1392 H, Syamilah

Komentar

Embed Widget
x