Find and Follow Us

Selasa, 25 Juni 2019 | 05:31 WIB

Jika Terlintas Kemaksiatan dalam Hati dan Pikiran

Jumat, 22 Maret 2019 | 18:00 WIB
Jika Terlintas Kemaksiatan dalam Hati dan Pikiran
(Ilustrasi)

PERTAMA, jangan sampai diucapkan atau dipraktekkan Demikianlah sikap sahabat, sebagaimana diceritakan dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa pernah datang beberapa orang menghadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Mereka mengatakan, Kami menjumpai dalam diri kami lintasan yang sangat berat bagi kami untuk mengucapkannya. Beliau bertanya kepada mereka, "Benar kalian menjumpai perasaan itu?" Itu bukti adanya iman." (HR. Muslim 132).

An-Nawawi menjelaskan, "Makna hadis, kalian merasa berat untuk mengucapkannya merupakan bukti adanya iman. Karena dia merasa berat mengucapkan kalimat semacam ini, disertai perasaan sangat takut untuk mengucapkannya. Lebih-lebih dia yakini. Sikap semacam ini hanya ada pada orang yang imannya kokoh dan teruji, sehingga hilang darinya segala keraguan dan bimbang." (Syarh Shahih Muslim, 2/154).

Kedua, segera minta perlindungan kepada Allah dari godaan setan (baca taawudz). Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Setan mendatangi kalian dan membisikkan: Siapa yang menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu? Sampai akhirnya dia membisikkan, Siapa yang menciptakan Tuhanmu? jika sudah demikian, segeralah minta perlindungan kepada Allah, dan berhenti (tidak memikirkannya). (HR. Bukhari 3276 dan Muslim 134).

Ketiga, jangan digubris. Barangkali inilah senjata paling ampuh untuk melawan was-was setan. Tidak mempedulikannya dan tidak menggubrisnya. Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan, "Maksudnya, berhenti tidak terus menerus memikirkan lintasan pikiran itu. Namun dia pasrahkan kepada Allah untuk menghilangkannya. Dan dia sadari bahwa setan hendak merusak agama dan pikirannya dengan bisikan semacam ini. sehingga selayaknya dia berusaha menghilangkannya dengan menyibukkan diri memikirkan yang lainnya. (Fathul Bari, 6/340)

An-Nawawi juga memberikan penjelasan yang semakna, "Maknanya, berpaling, tidak gubris dengan lintasan pikiran yang batil ini, dan pasrah kepada Allah untuk menghilangkannya. Selanjutnya, An-Nawawi membawakan nasehat, dengan mengutip keterangan Al-Maziri, 'Al-Imam Al-Maziri rahimahullah mengatakan, "Zahir hadis menunjukkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan mereka untuk menghilangkan lintasan pikiran itu dengan berpaling dan tidak digubris, tanpa mencari-cari dalil atau merenungkan bantahan untuk menilai salahnya lintasan itu."

Dan benar apa beliau nasihatkan. Lintasan kekufuran semacam ini hanya permainan setan, sehingga buat apa menghabiskan waktu dengan mencari dalil atau ayat Alquran atau hadis untuk membantahnya. Lebih dari itu, ini bukan termasuk kekufuran, sehingga tidak perlu terlalu dipikirkan. [Ustadz Ammi Nur Baits]

Komentar

Embed Widget
x