Find and Follow Us

Jumat, 18 Oktober 2019 | 03:12 WIB

Aktivis Dakwah Kok Menolak Dipoligami

Jumat, 22 Maret 2019 | 08:00 WIB
Aktivis Dakwah Kok Menolak Dipoligami
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

SEORANG aktivis dakwah bertanya kepada seorang ustazah, mengapa masih ada akhwat aktivis dakwah yang masih tidak rela di poligami? Padahal bukankah mereka memperjuangkan syariah, dan poligami sesuai syariah Islam?

Untuk itu ustazah tersebut menjawab sbb. Ustazah itu bisa memahami sikap para akhwat yang masih belum bisa sepenuhnya menerima poligami. Sebagian dari mereka biasanya karena masih merasa khawatir jika suami tidak mampu bersikap adil, ketidakmampuan untuk melakukan proses penyesuaian dengan isteri yang lain, atau ketidaksiapan untuk menerima segala perubahan setelah suaminya menikah lagi. Ditambah kemudian banyaknya fakta di tengah masyarakat yang menunjukkan praktek poligami yang salah.

Poligami yang sukses memang tidak semata-mata karena keikhlasan istri tetapi juga harus dibarengi dengan niat dan sikap yang baik dari suami ketika memilih berpoligami. Suami harus maruf saat menyampaikan keinginannya berpoligami kepada isteri, walaupun bukan merupakan syarat. Karena diam-diampun sejatinya tidak menjadi masalah. Tapi sebuah kebaikan jika diawali dengan langkah yang baik akan mendatangkan keberkahan. Selain suami, isteri baru juga harus pandai menyesuaikan diri dengan kehidupan yang selama ini sudah dijalani. Semua anggota keluarga harus bisa saling menjaga, menghargai, menerima kekurangan masing-masing, mengingatkan jika ada yang salah untuk menjadikan semuanya lebih baik.

Kekhawatiran suami akan cenderung hanya kepada satu isteri memang kadang menjadi kendala utama. Apalagi katanya perempuan memiliki sifat posessif, sulit untuk berbagi. Tentang kecenderungan sesungguhnya memang tidak dituntut untuk berbuat adil, karena suami memang tidak akan mampu melakukannya. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam al-Quran surat an-Nisa ayat 129. Dalam persoalan cinta kasih, Rasulullah saw lebih condong kepada Aisyah daripada isteri-isteri lainnya.

Meskipun demikian, sikap itu tidak boleh mengakibatkan hak-hak isteri yang lain terabaikan. Sehingga, dalam ayat 129 juga dinyatakan: Karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Untuk perkara-perkara yang berada dalam batas kemampuan manusia, seperti pemberian nafkah, sikap dan perlakuan lahiriah, giliran, dan semacamnya, maka suami wajib berlaku adil.

Memberikan contoh praktek poligami yang benar merupakan langkah yang tepat untuk pembelajaran agar bisa menerima poligami dengan ikhlas. Selain itu melakukan sharing dengan mereka yang telah sukses menjalani kehidupan berpoligami juga akan membantu. Menggambarkan tentang manisnya kehidupan mereka, hubungan antar anggota keluarga yang menyenangkan dan sebagainya.

Satu hal yang juga penting disampaikan bahwa sesungguhnya dalam kehidupan keluarga itu pasti akan ditemui problem. Baik keluarga poligami ataupun monogami. Yang terpenting adalah bagaimana setiap anggota keluaraga mampu menemukan solusi yang tepat terhadap setiap persoalan. Mudah-mudahan setiap pemahaman yang sudah tertanam akan mengiringi setiap langkah kita dalam berpikir dan berbuat. Sesungguhnya tidak ada syariat Allah yang akan mendatangkan keburukan bagi manusia. []

Komentar

Embed Widget
x