Find and Follow Us

Kamis, 20 Juni 2019 | 20:05 WIB

Hukum Salat di Tempat yang Terkena Najis

Selasa, 19 Maret 2019 | 11:00 WIB
Hukum Salat di Tempat yang Terkena Najis
(Foto: Istimewa)

Assalamu alaikum wr. wb.

PAK ustaz saya tinggal dengan ibu saya (non-Muslim). Sejak ayah meninggal, ibu saya murtad. Beberapa tahun kemudian ibu saya pelihara anjing di rumah yang awalnya diikat di teras rumah tapi lama-kelamaan anjingnya dimasukkan ke dalam rumah dan sangat mungkin mengenai semua barang rumah.

Pertanyaan saya, apakah salat saya tidak sah, tidak diterima, karena saya bernajis? Kalau memang tidak sah salat saya, haruskah saya tinggalkan salat sampai saya selesai menyucikan najisnya? Ataukah saya harus tinggalkan ibu saya dan saya cari rumah yang lain? Mohon jawabannya. (Yudha Prawira)

Jawaban

Waalaikum salam wr. wb.
Saudara penanya yang budiman, semoga diberikan pemahaman dan amaliah agama yang semakin bertambah baik. Salat harus dikerjakan dalam keadaan atau kondisi apapun.

Dalam kasus Saudara, maka tetap berkewajiban menunaikan salat. Salat yang Saudara lakukan di rumah yang terkena najis anjing itu berdasarkan mazhab Syafiiyah tidaklah sah sehingga wajib diulangi (idah) dengan menggunakan pakaian yang suci, di tempat dan badan yang jelas dipastikan sucinya dari najis tersebut.

Solusinya, bila rumah dan perangkat alat salat yang digunakan di dalamnya belum dipastikan kesuciannya, maka Saudara bisa melaksanakan salat di masjid, mushala atau tempat lain menggunakan pakaian yang suci, bisa dengan meminjam teman atau tetangga.

Untuk itu, rumah tersebut wajib dibersihkan dan disucikan sebisa mungkin, dengan cara yang tidak memberatkan, dengan cara bertahap, agar bisa digunakan salat dengan baik. Dengan cara seperti ini, Saudara tetap bersama-sama dengan sang ibu di rumah, dan merupakan ihsan (berbakti dan berbuat kebajikan) kepadanya.

Cara seperti ini bisa lebih menenteramkan hati dalam hal ibadah dan berhubungan dengan orang tua.

Berkaitan dengan ketentuan sucinya pakaian dan tempat salat, Syekh Wahbah Az-Zuhayli mengatakan sebagai berikut:

"Mazhab Syafiiyah berkata bahwa jika sebidang tanah itu kecil seperti rumah, maka seseorang tidak boleh salat di dalamnya sehingga ia menyucikannya, sebagaimana keadaan ragu-ragu terhadap bagian pakaian yang terkena najis; karena rumah dan semacamnya dapat disucikan dan dijaga dari najis, ketika terkena najis yang dapat disucikan," (Lihat Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islmi wa Adillatuh, [Damaskus, Drul Fikr: 2009], juz I, halaman 627-632).

Demikian penjelasan ini semoga dapat dipahami dengan baik. Kami terbuka menerima masukan dari pembaca yang budiman.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu alaikum wr. wb.

(Ustaz Ahmad Ali MD/nuol)

Komentar

Embed Widget
x