Find and Follow Us

Jumat, 24 Mei 2019 | 16:23 WIB

Benarkah Zikir Berjemaah Menyelisihi Sunah?

Rabu, 13 Maret 2019 | 11:00 WIB
Benarkah Zikir Berjemaah Menyelisihi Sunah?
(Foto: ilustrasi)

SEORANG jemaah pengajian bertanya seperti itu, dan dijawab Tim Fikih Wanita sebagai berikut:

Sebagian dari kita mungkin pernah melihat atau mengikuti majelis zikir berjemaah semacam ini. Dimana zikir berjemaah ini dilakukan dengan dipimpin oleh seorang imam atau ustaz, yang kemudian diikuti secara serempak dan bersama-sama oleh jemaah yang hadir.

Tak jarang bacaan zikir ini dilantunkan seperti nyanyian dalam paduan suara. Dan yang tak kalah memprihatinkan adalah adanya ikhtilath atau campur baur antara laki-laki dan perempuan dalam satu majelis.

Beberapa waktu lalu, zikir berjemaah sempat menjadi "tren" di masyarakat kita. Banyak orang menyibukkan diri dengan mempersiapkan pakaian putih yang seragam dengan kelompoknya untuk dapat mengikuti acara zikir berjemaah yang digelar di sebuah masjid atau di suatu tempat tertentu. Bahkan hingga kini pun, beberapa stasiun televisi ada yang secara rutin menayangkan acara zikir berjemaah ini.

Sesungguhnya amalan membaca zikir secara berjemaah dengan dikomando oleh seorang imam atau ustaz semacam ini tidak pernah dilakukan pada zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Amalan seperti ini merupakan amalan yang menyelisihi sunah, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkannya. Tidak ditemukan satupun hadis sahih tentang zikir setelah salat yang meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengomando jemaahnya untuk berzikir, apalagi dengan melantunkan zikir tersebut menyerupai nyanyian.

Yang disunahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah membaca zikir sendiri-sendiri dengan mengeraskan suara. Bukan dengan koor seperti yang sering kita jumpai selama ini di majelis-majelis zikir berjemaah.

Dalilnya:

Diriwayakan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata : "Mengeraskan suara ketika berzikir setelah salat fardhu merupakan perkara yang dilakukan pada zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam." (Muttafaqun alaihi).

Dalam riwayat ini, Ibnu Abbas menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabatnya biasa mengeraskan suara pada saat berzikir setelah salat sampai-sampai orang-orang yang berada di sekitar masjid mengetahui bahwa mereka telah selesai salat (sudah salam).

Dalam hadis ini pula terkandung makna bahwa Rasulullah tidak mengajarkan untuk zikir secara berjemaah, akan tetapi duduk bersama untuk berzikir sendiri-sendiri dengan mengeraskan suara. Inilah sunah, dan inilah makna majelis zikir yang sesungguhnya.[fikihwanita]

Komentar

Embed Widget
x