Find and Follow Us

Minggu, 21 April 2019 | 11:58 WIB

Menjual Akhirat untuk Kepentingan Dunia Orang Lain

Rabu, 13 Februari 2019 | 16:00 WIB
Menjual Akhirat untuk Kepentingan Dunia Orang Lain
(Foto: Ilustrasi)

PADA tahun 97 H, khalifah muslimin, Sulaiman bin Abdul Malik menempuh perjalanan ke negeri yang disucikan, memenuhi undangan bapak para Nabi, yakni Ibrahim alaihissalam. Iring-iringan itu bergerak dengan cepat dari Damaskus, ibukota kekhalifahan Umawiyah, menuju Madinah al-Munawarah. Ada rasa rindu pada diri khalifah di raudhah nabawi yang suci dan rindu untuk mengucapkan salam atas Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Rombongan tersebut diserta para ahli qurra (ahli Alquran), muhadditsin (ahli hadis), fuqaha (ahli fikih), ulama, umara, dan para perwira.

Setibanya khalifah di Madinah dan menurunkan perbekalan, orang-orang, dan para pemuka Madinah menghampiri mereka untuk mengucapkan salam dan menyambut kedatangan khalifah. Akan tetapi Salamah bin Dinar sebagai qadhi dan Imam kota yang terpercaya, ternyata tidak termasuk ke dalam rombongan manusia yang turut menyambut dan mengucapkan selamat kepada Khalifah.

Setelah selesai melayani orang-orang yang menyambutnya, Sulaiman bin Abdul Malik berkata kepada orang-orang yang dekat dengannya, "Sesungguhnya hati itu bisa berkarat dari waktu ke waktu sebagaimana besi bila tidak ada yang mengingatkan dan membersihkan karatnya." Mereka berkata, "Benar wahai Amirul Mukminin." Lalu beliau berkata, "Tidak adakah di Madinah ini seseorang yang bisa menasihati kita, seseorang yang pernah berjumpa dengan para sahabat Rasulullah?" Mereka menjawab, "Ada wahai Amirul Mukminin, di sini ada Abu Hazim al-Araj."

Beliau bertanya, "Siapakah itu Abu Hazim?" mereka menjawab, "Dialah Salamah bin Dinar, seorang alim, cendekia dan imam di kota Madinah. Beliau termasuk salah satu tabiin yang pernah bersahabat baik dengan beberapa sahabat utama." Khalifah berkata, "Kalau begitu, panggillah beliau kemari, namun berlakulah sopan kepada beliau!" Para pembantu dekat khalifah pun pergi memanggil Salamah bin Dinar. Setelah Abu Hazim datang, khalifah menyambut dan membawanya ke tempat pertemuannya.

Khalifah: "Mengapa Anda demikian angkuhnya terhadapku, wahai Abu Hazim?"
Abu Hazim: "Angkuh yang bagaimana yang Anda maksud dan Anda lihat dari saya wahai Amirul Mukminin"
Khalifah: "Semua tokoh Madinah datang menyambutku, sedang Anda tak menampakkan diri sama sekali."
Abu Hazim, "Dikatakan angkuh itu adalah setelah perkenalan, sedangkan Anda belum mengenal saya dan saya pun belum pernah melihat Anda. Maka keangkuhan mana yang telah saya lakukan?"
Khalifah: "Benar alasan syaikh dan khalifah telah salah berprasangka. Dalam benakku banyak masalah penting yang ingin aku utarakan kepada Anda wahai Abu Hazim."
Abu Hazim: "Katakanlah wahai Amirul Mukminin, Allah tempat memohon pertolongan."
Khalifah: "Wahai Abu Hazim, mengapa kita membenci kematian?"
Abu Hazim: "Karena kita memakmurkan dunia kita dan menghancurkan akhirat kita. Akhirnya kita benci keluar dari kemakmuran menuju kehancuran."
Khalifah: "Anda benar. Wahai Abu Hazim, apa bagian kita di sisi Allah kelak?"
Abu Hazim: "bandingkan amalan Anda dengan Kitabullah, niscaya Anda bisa mengetahuinya."
Khalifah: "Dalam ayat yang mana saya dapat menemukannya?"
Abu Hazim: "Anda bisa temukan dalam firman-Nya yang suci: "Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenimatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka." (QS. Al-Infithar: 13-14)
Khalifah: "Jika demikian, di manakah letak rahmat Allah Subhanahu wa Taala?"
Abu Hazim: (membaca firman Allah) "Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat sekali dengan mereka yang berbuat kebajikan."
Khalifah: "Lalu bagaimana kita menghadap kepada Allah kelak, wahai Abu Hazim?"
Abu Hazim: "Orang-orang yang baik akan kembali kepada Allah seperti perantau yang kembali kepada keluarganya, sedangkan yang jahat akan datang seperti budak yang curang atau lari lalu diseret kepada majikannya dengan keras."

Khalifah menangis mendengarnya sampai keluar isaknya kemudian berkata,
Khalifah: "Wahai Abu Hazim, bagaimana cara memperbaiki diri?"
Abu Hazim: "Dengan meninggalkan kesombongan dan berhias dengan muruah (menjaga kehormatan)."
Khalifah: "Bagaimana cara memanfaatkan harta benda agar ada nilai takwa kepada Allah Subhanahu wa Taala?"
Abu Hazim: "Bila Anda mengambilnya dengan cara yang benar dan meletakkan di tempat yang benar pula, lalu Anda membaginya dengan merata dan berlaku adil terhadap rakyat."
Khalifah: "Wahai Abu Hazim, jelaskan kepadaku, siapakah manusia yang paling mulia itu?"
Abu Hazim: "Yaitu orang-orang yang menjaga muruah dan bertakwa."
Khalifah: "Lalu perkataan apa yang paling besar manfaatnya?"
Abu Hazim: "Perkataan yang benar, yang diucapkan di hadapan orang yang ditakuti dan diharap bantuannya."
Khalifah: "Wahai Abu Hazim, doa manakah yang paling mustajab?"
Abu Hazim: "Doanya orang-orang baik untuk orang-orang baik."
Khalifah: "Sedekah manakah yang paling utama?"
Abu Hazim: "Sedekah dari orang yang kekurangan kepada orang yang memerlukan tanpa menggerutu dan kata-kata yang menyakitkan."
Khalifah: "Wahai Abu Hazim, siapakah orang yang paling dermawan dan terhormat?"
Abu Hazim: "Orang yang menemukan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Taala lalu diamalkan dan diajarkan kepada orang lain."

Khalifah: "Siapakah orang yang paling dungu?"
Abu Hazim: "Orang yang terpengaruh oleh hawa nafsu kawannya, padahal kawannya tersebut orang yang zalim. Maka pada hakikatnya dia menjual akhiratnya untuk kepentingan dunia orang lain."

[baca lanjutan]

Komentar

Embed Widget
x