Find and Follow Us

Jumat, 24 Mei 2019 | 16:17 WIB

Kesabaran Menghadapi Orang Keras Hati

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 15 Februari 2019 | 00:06 WIB
Kesabaran Menghadapi Orang Keras Hati
(Foto: Istimewa)

LELAKI ini adalah lelaki yang luar biasa berbaktinya kepada kedua orang tuanya. Tak satupun permintaan orang tuanya ditolak, termasuk menikahi seorang wanita super manja setengah nakal yang tak lain adalah sepupunya sendiri.

Wanita yang kini menjadi isterinya itu luar biasa tuntutan hidupnya. Sang suami sabar dan terus menasehatinya. Sayangnya, kesabarannya seringkali dijadikan kesempatan oleh sang isteri untuk terus mendiktenya, nasehatnya sering pula dijadikan dasar pembenar kecerewetannya.

Andai tak ingat pesan orang tuanya, mungkin saja lelaki itu telah menceraikan wanita itu. Tak tersisa satupun dari tetangga yang tak mendukungnya untuk menceraikan wanita itu. Lelaki itu tetap sabar. Bahkan, saat si isteri mengancam untuk pergi dan tak akan kembali, lelaki itu dengan lembut berkata: "Mau pergi kemana? Sudah tak nyamankah ada di sini bersamaku? Ataukah sudah ada tempat lain yang dituju yang akan membuatmu bahagia?"

Diperlakukan secara halus ternyata tak membuat hati wanita itu menjadi halus, bahkan semakin mengkasar. Dia teriak-teriak akan pergi. Lelaki itu menunduk diam sambil mengingat kata guru psikologinya dulu bahwa orang yang mengancam-ancam akan pergi biasanya tak akan pergi. Orang yang memang kuat hati untuk pergi biasanya langsung pergi menghilang. Hilang tanpa pengantar.

Apakah teori itu berlaku untuk wanita yang satu ini? Kisahnya masih berlanjut. Wanita itu memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Foto-fotonya yang menempel di dinding diturunkan dan dimasukkan juga ke dalam koper itu. Dia berkata setengah membentak dan terisak: "Aku harus pergi hari ini juga. Jangan cegah saya." Lelakinya berkata lembut: "Tahukah engkau jalan pergi dari sini? Ataukah harus aku antar engkau ke tempat yang ingin engkau tuju?"

Sang isteri kelihatan tertegun dengan susunan kalimat yang disampaikan sang suami. Dia mulai berpikir betapa ada kelembutan yang menjadi penghantar kalimat hingga sampai ke telinganya. Wanita itu lama menatap wajah suaminya itu. Lalu wanita itu melanjutkan menata baju di kopernya dan menguncinya rapat-rapat. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x