Find and Follow Us

Jumat, 21 Juni 2019 | 06:10 WIB

Menggugat Allah dan Menjadikan Allah Terdakwa

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Selasa, 22 Januari 2019 | 00:05 WIB
Menggugat Allah dan Menjadikan Allah Terdakwa
(Foto: Istimewa)

JUDUL di atas mungkin terasa ganjil, bagaimana mungkin Allah menjadi terdakwa? Siapa pula yang akan menjadi hakimnya? Siapa pula yang berani menuntut Allah?

Tiga pertanyaan ini mungkin saja lebih sulit dijawab dibandingkan dengan pertanyaan dalam debat capres cawapres. Sayapun aslinya tak bisa menjawab, karenanya maka saya merujuk saja pada dawuh para ulama yang saya baca dalam tulisan-tulisannya.

Mereka yang mengeluhkan takdir Allah kepada seseorang itu bermakna bahwa mereka sedang mengadili Allah dan menjadikan seseorang itu sebagai hakim. "Coba Mas pikir dalam-dalam, apa salah saya kepada Allah, saya kurang beribadah bagaimana, kok masih terus saja diterpa masalah. Bagaimana ini Allah menurut Mas?" Demikian salah satu contoh mau mengadili Allah. Sungguh tak sopan. Lebih tak sopan lagi jika si Mas mau menjadi hakim.

Lalu bagaimana cara terbaik menyikapi musibah? Diam, tafakkur, bersabar, teruslah berbuat baik dan pasrahkan kepada Allah. Hilangkan arogansi mendeklarasikan diri mengatur segalanya. Gantilah dengan kesantunan memohon pilihan yang terbaik kepada Allah dalam segala hal. Lalu jalani semuanya dengan penuh kepercayaan kepada kebaikan dan keadilan Allah.

Ulama psikologi berkata: Salah satu kunci utama kebahagiaan adalah senantiasa memohon pilihan terbaik kepada Allah untuk semua takdir yang akan dilaluinya, lalu menjalaninya dengan penuh ridla.

Tulisan ini terilhami WA seseorang yang beberapa kali mengeluh karena mertuanya miskin sekali. Tiga jawaban singkat saya kepadanya: pertama, "kamu niat menikahi anaknya mertua apa mertuamu?": kedua, "orang tua miskin itu takdir, mertua miskin itu pilihan"; ketiga, "jangan banyak mengeluh, jalani saja. Dan jangan WA saya lagi, kuota internet habis." Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x