Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 25 Maret 2019 | 12:26 WIB

Riya Tersamar, Jangkiti Orang Biasa hingga Ulama

Sabtu, 12 Januari 2019 | 11:00 WIB

Berita Terkait

Riya Tersamar, Jangkiti Orang Biasa hingga Ulama
(Foto: Ilustrasi)

HUKUM asal riya adalah Syirik Asghar (syirik kecil) yang tidak mengeluarkan pelakunya dari islam. Namun apabila riya dilakukan di seluruh amal ibadah, dia sama sekali tidak mengharapkan rida Allah Taala di setiap ibadahnya serta tujuan dari seluruh ibadahnya hanya untuk diterima masyarakat atau agar harta dan darahnya terjaga, maka yang semisal ini adalah perbuatan riya orang munafik. Dan ini termasuk kedalam Syirik Akbar (Syirik besar yang mengeluarkan dari Islam).

Allah Taala berfirman (artinya), "Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, maka Allah membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud untuk dilihat orang (Riya), tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit" (QS. An Nisa: 142).

(Ianatul Mustafiid). Bahaya Riya 1. Riya Termasuk Perbuatan Syirik

Setiap dosa yang dilakukan manusia memiliki tingkatan. Dosa terbesar yang dilarang syariat adalah kesyirikan, dan riya termasuk syirik asghar. Sehingga tatkala seseorang melakukan riya, berarti ia telah melakukan perbuatan dosa yang jauh lebih berbahaya, lebih berdosa, dan lebih mengerikan ancaman siksaanya dibandingkan zina, riba, mencuri, atau minum khamr.

2. Dosa Riya Tidak Diampuni Allah Taala berfirman (artinya), "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa (tingkatannya) di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendakiNya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa besar" (QS. An Nisa: 48). Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berjumpa dengan Allah Taala dalam keadaan tidak menyekutukanNya (syirik) dengan sesuatu apapun maka dia akan masuk surga. Barangsiapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan menyekutukanNya maka dia akan masuk neraka (HR. Muslim).

Adapun pelaku riya maka diancam dengan neraka (At Tamhiid). Karena riya termasuk kesyrikan, maka pelakunya tidak akan diampuni kecuali dengan tobat yang sebenar-benarnya sebelum pintu tobat ditutup.

3. Riya Menghapus Amalan yang tercampurinya Dalam hadits qudsiy diriwayatkan bahwa Allah Taala berfirman (artinya), "Aku adalah dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dan dia menyekutukan Aku dengan sesuatu yang lain (dalam amalnya), maka Aku akan tinggalkan dia dengan amalannya" (HR. Muslim).

4. Termasuk Syirik Khafiy Riya disifati sebagai perbuatan syirik khafiy (samar) yang menjangkiti hati dan tujuan pelakunya. Perbuatan syirik ini tersamar karena tidak ada yang mengetahui kandungan hati seseorang kecuali Allah Taala (Al Qoul Al Mufiid).

Oleh karena itu Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tetap mengkhawatirkan para sahabatnya terhadap riya, padahal mereka memiliki tingkat keimanan yang tinggi dan merupakan sebaik-baik manusia setelah para Nabi dan Rasul. Maka kita generasi yang jauh dari masa sahabat harus lebih takut terkena riya dan waspada darinya.

5. Lebih Berbahaya Daripada Fitnah Dajjal Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam lebih mengkhawatirkan riya menjangkiti para sahabatnya, karena keikhlasan dalam ibadah adalah perkara yang sangat sulit.

Sebagian salaf (orang shalih terdahulu) berkata, "Tidaklah aku curahkan segenap kemampuanku sebesar perjuanganku untuk mengikhlashkan amal" (Al Qoul Al Mufiid). Fitnah riya sebabnya samar dan dapat menjangkiti siapapun, baik ia seorang ulama ataupun orang biasa. Kecuali bagi orang yang mendapatkan rahmat dan pertolongan dari Allah Taala. Sedangkan fitnah Dajjal kelak dengan izin Allah Taala tidak akan berpengaruh pada orang-orang beriman. []

Komentar

Embed Widget
x