Find and Follow Us

Selasa, 25 Juni 2019 | 05:21 WIB

Menikmati Suhu dan Mensyukuri Hidangan Hidup

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Minggu, 13 Januari 2019 | 00:04 WIB
Menikmati Suhu dan Mensyukuri Hidangan Hidup
(Foto: ilustrasi)

SUHU pagi ini sekitar 15 derajat celcius, sangat dingin dalam ukuran kita manusia Indonesia, khususnya Jawa Timur. Jamaah terus saja menerobos dingin itu dengan membawa cinta dan rindu menuju kediaman Sang Rasul, manusia pilihan.

Bukan hanya jamaah yang muda yang menerobos dingin itu. Kakek dan nenek tertua pun dalam jamaah kami ikut bersuka cita bertarung dengan dingin. Bunyi pertemuan gigi-gigi yang mereka sering katup-katupkan sebagai penanda dingin terdengar lumayan jelas. Suaranya beragam, sangat beda bunyi katupan gigi asli dan gigi palsu mereka. Kami tertawa dan terus berjalan.

Ada yang berkata bahwa lebih enak suhu panas ketimbang suhu dingin. Suhu dingin ini serba menjadikan badan terasa tak enak. Baju tebal terasa tak ada yang cocok. Perut terasa lapar terus. Saat suhu panas, ada yang berkata bahwa enak suhu dingin ketimbang panas. Panas itu sumuk, membuat tak kerasan kemana-mana. Manusia memang cenderung mengeluh.

Apakah keluhan menyelesaikan masalah? Lalu apakah yang harus dilakukan jika keadaan tak sesuai harapan? Ternyata keluhan hanya menyebabkan hati ini berpolusi, polusi yang menjadikan hati semakin berkabut. Bersabar menjalani apapun rupa jalan hidup adalah pilihan yang tepat. Menikmati segala apa yang dihidangkan Pemilik Alam adalah membahagiakan. Bagaimana contohnya?

Kakek tua dalam rombongan kami menarik menjadi contoh. Dalam dingin beliau terkekeh-kekeh sambil berkata: "Tak usah bawa kulkas, tak usah beli AC, dinginnya alam langsung disediakan Allah. Dingin yang asli, bukan dingin buatan, pasti menyehatkan."

Kami bahagia terhibur beliau. Beliau kini sudah selesai shalat subuh dan pulang dari Masjid Nabawi. Kakek rupanya masuk angin, wajahnya agak pucat. Sepertinya kita harus kompak memijat beliau seusai sarapan pagi ini. Apa perlu api unggun, kakek? Salam bahagia, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x