Find and Follow Us

Selasa, 25 Juni 2019 | 08:33 WIB

Kapan Kita Dianggap Saleh dan Layak Menikah?

Kamis, 10 Januari 2019 | 17:00 WIB
Kapan Kita Dianggap Saleh dan Layak Menikah?
(Foto: Istimewa)

UNTUK para mahasiswa biar berani ambil keputusan menikah, kalau persyaratan sudah terpenuhi. Adapun buat mahasiswi supaya masa penantian jodoh diisi dengan hal-hal cerdas dan produktif. Untuk pendekatan, sebagai pengantar kami paparkan konsep PANAH dan BUNGA. Dua konsep ini kami sampaikan dari buku yang kami tulis, berjudul "Energi Cinta untuk Keluarga".

Konsep PANAH ini bekal untuk para mahasiswa. Isinya:

1. Pendidikan > Untuk membangun karakter keislaman, sebab hanya orang berkarakter yang tahu kapan ia mesti ambil keputusan menikah. Dan hanya orang berkarakter yang tahu tujuan hakiki pernikahan dan bagaimana memelihara perjajian mulia dalam membangun rumah tangga.

2. Alami > Bahwa proses menikah itu mesti melalui komunikasi yang alami. Melibatkan komunikasi dengan orang tua secara baik. Mesti ada perkenalan dengan cara-cara yang islami, hingga muncul ketertarikan terhadap calon istri.

3. Nyali (bukan Nekad) > Nyali adalah keberanian dengan perhitungan. Adapun nekad keberanian tanpa perhitungan. Keputusan untuk menikah jelas memerlukan nyali, terutama bagi para pria, sebab pernikahan berarti pertanggungjawaban.

4. Acuan > Acuan utama adalah arahan dari Allah swt dan sunnah Nabi-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Menikah itu untuk memperoleh ketentraman, cinta dan kasih sayang. Menikah juga untuk makin memperkokoh akhlaq pribadi dan bermasyarakat. Menikah untuk membangun keluarga teladan bagi masyakaratnya. Dan menikah pada akhirnya untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

5. Harapan > Semakin dekat dengan hari-hari akad nikah, semakin memuncak harapan dan doa kepada Allah swt. Semakin kuat azam untuk menikah, semakin Dia mudahkan jalan-jalan menggapainya. Sebaliknya, kalau niat lemah, wawasan tentang pernikahan tak ada, mana mungkin ada energi untuk mengejar yang dicinta.

Adapun pedoman untuk para mahasiswi disingkat dalam BUNGA:
1. Berbudi
2. Usaha
3. Niat
4. Gerak dan
5. Agama

Penjabaran tentang BUNGA secara singkat adalah, bahwa masa-masa penantian jodoh harus diisi dengan berbagai persiapan membangun budi pekerti, seperti sifat penyayang, pemaaf, penyabar, dan teguh hati. Juga mesti diisi dengan aktivitas sosial yang kaya. Ada dua alasan, pertama untuk membangun kecerdasan sosial yang tinggi dan kedua untuk memperluas pergaulan. Dan paling penting adalah senantiasa mendekatkan diri kepada Ilahi, sebab Dia-lah pemilik cinta!

Ada pertanyaan menarik: Mengingat mereka yang sholih itu untuk yang sholihah, maka kapan kita boleh menganggap diri cukup sholih untuk siap menikah? Kami jawab bahwa generasi sahabat, generasi terbaik itu, dinisbahkah oleh Allah swt sebagai "yuhibbuuna an yatathahharuu", orang-orang yang amat ingin untuk senantiasa mensucikan diri. Karenanya masalah sholih atau sholihah itu adalah "a process of becoming" bukan "a state of being". Itu merupakan proses yang harus terus kita lakukan, dan bukan sebuah status.

Cukuplah patokan kesiapan itu diwakili oleh tiga hal:
1. Kematangan spriritual, dengan adanya kedekatan dan ketaatan kepada Allah swt.
2. Kematangan intelektual, dengan dimilikinya wawasan yang memadai tentang seluk beluk pernikahan.
3. Kematangan finansial, dengan kesiapan untuk bekerja keras dan bertanggung jawab dalam menafkahi keluarga.

[Buku "Energi Cinta untuk Keluarga" ditulis oleh Adi Junjunan Mustafa]

Komentar

x