Find and Follow Us

Minggu, 21 April 2019 | 11:59 WIB

Berguru kepada Sang Raja Para Ulama

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Selasa, 8 Januari 2019 | 00:03 WIB
Berguru kepada Sang Raja Para Ulama
(Foto: ilustrasi)

PERNAH mendengar julukan sulthanul ulama (rajanya para ulama)? Iya, julukan itu disematkan pada seorang alim yang bernama Al-'Izz bin Abdussalam. Dua minggu ini, kami mengaji kitab beliau yang berjudul Fawaidul Balwaa Wal Mihan (Hikmah Cobaan dan Ujian).

Ada 17 alasan mengapa kita tak boleh mengeluh di tengah gempuran musibah, bencana, cobaan dan ujian. Tulisan kali ini tidak dimaksudkan mengurai ketujuh belas alasan itu, melainkan sisi lain dari kehidupan sang raja ulama ini.

Saya benar-benar jatuh hati pada ulama yang juga disebut dengan nama Izzuddin bin Abdissalam ini. Ketegaran dan ketegasannya serta kezuhudannya begitu luar biasa. Keberpihakan beliau pada urusan akhirat benar-benar tercermin dari kehidupan kesehariannya. Lalu bagaimanakah kira-kira kehidupan keluarganya? Mampukah isterinya menempatkan diri untuk mengikuti irama kehidupan beliau? Ahaaa, ada kisah menarik tentang ini.

Di suatu masa, harga kebun di daerah Syekh Izzuddin amatlah murah. Harganya terjun payung dari tinggi menjadi rendah. Isterinya menyerahkan perhiasan dan harta simpanannya kepada beliau agar dijual dan dibelikan kebun untuknya. Sungguh isteri yang baik, memasrahkan urusan besar ini kepada keputusan suami. Syekh Izzuddin menjual harta dan perhiasan itu. Uang pun ada di tangan beliau.

Saat uang ada di tangan Syekh, terlihat ada banyak manusia yang butuh bantuan keuangan demi kebutuhan pokok hidupnya. Syekh Izzuddin membagi-bagikan uang itu kepada mereka sebagai shadaqah. Syekh pun pulang dengan pikiran tenang dan hati riang.

Sesampainya di rumah, sang isteri tercintanya bertanya dengan penuh senyum dan harap: "Apakah sudah dibelikan kebun dan rumah untuk kita?" Syekh Izzuddin menjawab: "Sudah kubelikan kebun, tapi tidak di sini, melainkan di surga. Aku shadaqahkan semua uang perhiasanmu itu kepada orang yang membutuhkan."

Para pembaca, sahabat dan saudaraku, bisakah dibayangkan nuansa hati sang isteri? Ahaa... berat sekali bayangannya, bukan? Ternyata isteri sang teladan kita ini menjawab dengan senyum: "Terimakasih ya, semoga Allah membalas kebaikanmu wahai suamiku." Luar biasa keluarga Syekh kita yang satu ini. SEmoga keluarga kita selalu menjadi keluarga yang kompak di jalan yang diridlai Allah. Salam, AIM. [*]

Komentar

x