Find and Follow Us

Jumat, 19 Juli 2019 | 03:15 WIB

Hindari! Jangan Besarkan Anak dengan Cara Haram

Kamis, 3 Januari 2019 | 09:00 WIB
Hindari! Jangan Besarkan Anak dengan Cara Haram
(Foto: Ilustrasi)

SUDAH kesekian kalinya Ustaz Nur mendatangi rumah itu, tapi jawaban serupa kembali ia dapatkan. "Suul belum ke sini. Sudah lama ia nggak muncul. Sebagai keluarga kami pasrah saja jika Bapak mau memprosesnya ke polisi," kata sang paman.

Dari lelaki paruh baya ini juga Ustaz Nur tahu, Suul telah berkali-kali membawa lari mobil orang. Dan kini, Ustaz Nur menjadi salah satu korbannya. Dia memiliki bisnis rental mobil. Beberapa bulan yang lalu Suul datang meminjam mobil untuk satu bulan.

"Ada proyek dari perusahaan," katanya saat itu. Karena KTP-nya ada, tertera jelas alamatnya hanya beda kelurahan, Ustaz Nur pun melepas mobil itu. Sebulan berlalu, Suul mengembalikan mobil itu.

Beberapa hari kemudian, Suul datang lagi. Ia meminjam mobil dengan alasan yang sama untuk jangka waktu yang sama pula. Selesai satu bulan, Suul mengembalikan mobil itu. Demikian ia ulangi sekali lagi. Namun pada rental yang keempat, satu bulan berlalu belum ada kabar dari Suul. Mobil belum dikembalikan, HP Suul juga tidak bisa dihubungi. Ustaz Nur mulai cemas. Hitungan hari telah berganti pekan.

Ustaz Nur pun kemudian mencari Suul ke rumahnya sesuai alamat KTP. "Saya istrinya, dan ini rumah orangtua saya. Nur sudah lama nggak pulang. Coba bapak cari di rumah orang tuanya, mungkin dia di sana," kata sang istri sambil menyerahkan alamat orang tua Suul.

Ustaz Nur seperti di pingpong. Di rumah mertuanya tidak ada, di rumah orangtua Suul juga tidak ada. Mendengar cerita keluarga Suul, Ustaz Nur jadi kasihan bercampur geram. Keluarganya sudah pasrah jika Suul masuk penjara. Apalagi melihat ibu Suul. Perempuan tua itu tampak sangat sedih jika ditanyai tentang anaknya. "Sebaiknya jangan tanya-tanya Suul lagi kepada ibu, kasihan dia jadi sedih nggak mau makan," kata keluarga Suul.

"Apakah Suul sewaktu kecil diberi makanan haram?," Ustaz Nur tiba-tiba teringat pertanyaan itu. Di luar pencariannya atas mobil yang hilang, ia juga tergelitik untuk menyelidiki latar belakang Suul. Ibu Suul hanya menangis. Rupanya di waktu kecil, mereka terlibat penzaliman tanah dan tentu saja Suul juga diberi makan dari uang haram tersebut.

Kini mobil Ustaz Nur telah kembali. Tetapi latar belakangnya menjadi kesimpulan tersendiri. Sebelumnya ada sejumlah kasus yang agak berbeda tetapi memiliki satu benang merah. Banyak pemuda dan orang-orang bermasalahbaik terjerat hukum atau cacat moral- ternyata mereka mengecap uang haram di waktu kecilnya.

Saudaraku orang tua muslim Kita pasti menginginkan anak-anak yang saleh. Kita pasti menginginkan anak-anak yang berbakti. Kita pasti menginginkan anak-anak yang sukses di dunia dan akhirat. Salah satu kuncinya adalah, nafkahi mereka hanya dari harta halal. Jangan sekali-kali memberikan makanan haram kepada mereka. Makanan haram bukan hanya daging babi dan lainnya yang diharamkan karena jenis makanan. Tetapi juga makanan haram yang diperoleh dari uang atau harta haram. Korupsi, mencuri, menipu, riba dan sejenisnya. Ini yang lebih banyak terjadi.

Apa yang menimpa Suul bukanlah kisah satu-satunya. Sebelumnya pernah terjadi seorang pejabat BUMN yang sangat menyesal mengetahui anaknya terjerat narkoba. Untuk merehabilitasinya, ia mengeluarkan uang Rp1,2 miliar. Setara dengan jumlah korupsi yang ia lakukan. Untungnya, pejabat itu kemudian bertobat setelah ditegur Allah dengan anaknya yang terjerat narkoba. [bersamadakwah]

*Ustaz Nur dan Suul bukanlah nama sebenarnya

Komentar

x