Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 23 Maret 2019 | 05:17 WIB

Tembang Lama, Masa Lalu dan Masa Kini

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Jumat, 4 Januari 2019 | 00:03 WIB

Berita Terkait

Tembang Lama, Masa Lalu dan Masa Kini
(Foto: Ilustrasi)

KETIKA film Rhoma Irama lagi ngetop-ngetopnya, saya masih duduk di usia SD. Layar tancap merupakan tontonan rakyat desa yang paling mewah saat itu. Dengan tiket masuk yang sangat murah, masyarakat berduyun-duyun menonton bioskop misbar atau gerimis bubar di lapangan dalam pasar itu.

Saya termasuk yang ikut nonton bersama teman-teman sekolah. Karena tak ada film lainnya, maka Rhoma Irama menjadi idola yang tak tersaingi. Lagunyapun dihapal dan didendangkan. Saya banyak hapal lagu-lagu lawas Rhoma Irama itu.

Lagu Rhoma Irama itu renyah dan tak lekang oleh waktu. Sampai kini tetap enak didengar dan membawa nuansa hati kembali pada masa lalu. Masa lalu yang saya maksud bukanlah kenangan cinta karena saat itu saya masih belum kenal apa itu cinta. Masa lalu yang saya maksud adalah kesederhanaan maayarakat desa, keakraban sosial serta murah meriahnya harga bahagia. Saya setuju pada pendapat pengamat musik yang menyatakan bahwa tembang lawas itu yang paling indah bukan syairnya, tapi nuansa yang menjadi konteks pada masa lalu itu.

Saat ini jam menunjukkan pukul 01.15 WIB. Saya masih dalam mobil dalam perjalanan pulang dari sebuah acara. Terdengar telinga saya tiga buah lagu lama Rhoma Irama: Gitar Tua, Tabir Kepalsuan, dan Tak Dapat Tidur. Sontak ingatan memunculkan kembali masa kecil saya dulu, saat kisah cinta manusia tidak terlalu rumit serumit kisah cinta anak zaman sekarang. Saya ingat film Rhoma Irama yang ada lagu tersebut di atas, kisah cinta yang tidak terlalu banyak konflik, mengalir linier namun menyentuh.

Berbeda dengan kisah cinta anak sekarang. Dari banyak kisah yang saya baca dan saya dengar, tingkat kerumitan cintanya mengalahkan rumus matematika tingkat tinggi, terlalu banyak perkalian dan pembagian disamping pertambahan dan pengurangan. Cinta jaman kini terlalu banyak tuntutan, sementara cinta jaman dulu masih mengikuti tuntunan. Ah, apa iya? Bisa didiskusikan.

Setelah mendengar tiga lagu itu, saya tulis catatan ini sambil mengisi waktu untuk sampai di Surabaya. Ketimbang hanya diam saat tak bisa tidur dalam mobil karena tadi minum kopi, maka saya gunakan untuk menulis karena tak ada gitar tua untuk mengiringi lagu tabir kepalsuan. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x