Find and Follow Us

Minggu, 26 Mei 2019 | 12:13 WIB

Siapakah Orang yang Ikhlas itu?

Rabu, 19 Desember 2018 | 06:00 WIB
Siapakah Orang yang Ikhlas itu?
(Foto: ilustrasi)

JIKA ikhlas ialah rahasia, bagaimanakah kita bisa mengenalinya? Bagaimanakah ciri-cirinya?

Syekh al-Anquri menguaknya dalam salah satu abab pada kitab Munyat al-Waizhin wa Ghunyat al- Muttaizhzhin.

Diriwayatkan dari seorang ahli hikmah: sesungguhnya perumpamaan orang yang beramal karena ria dan sumah adalah seperti orang yang pergi ke pasar, namun memenuhi saku bajunya dengan kerikil.

Orangorang mengatakan, kerikil itu tak dapat memenuhi kebutuhan orang itu. Ia tak dapat apa-apa selain ocehan dari orang lain. Jika ia ingin membeli sesuatu, maka ia tidak bisa membelinya dengan kerikil.

Demikian pula halnya dengan amalan yang dilakukan karena ria dan sumah; tidak ada manfaat amalnya, keculai sanjungan dari manusia, dan tidak ada pahala sedikit pun baginya di akhirat nanti. Ini ditegaskan dalam firman Allah.

"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (al-Furqan : 23 )

Allah swt akan menggugurkan pahala amalan-amalan mereka yang bukan karena mengharapkan rida Allah. Lalu Allah jadikan amalan-amalan itu seperti debu yang beterbangan.

Seorang ahli hikmah pernah ditanya, " Siapakah orang yang ikhlas itu?" Jawabnya, Orang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan amal kebaikannya sebagaimana ia menutupi amal keburukannya.

Ali ibn Abi Thalib berkata, "Ada empat tanda orang yang ria dalam beramal, yaitu malas beramal jika sendirian, rajin beramal jika banyak orang, semakin rajin beramal jika mendapat pujian, dan semakin malas jika mendapat celaan."

Seorang ahli hikmah berpendapat, orang yang beramal hendaknya meniru adab beramal yang dipraktikkan penggembala kambing. Jika si penggembala melakukan salat di samping gembalaannya, maka salatnya tak akan pernah dipuji oleh kambing-kambingnya. Demikian pula beramal, hendaknya tidak pernah memerhatikan pandangan manusia terhadap amalnya. Sebaliknya, ia harus mampu beramal secara konsisten, baik dikala ramai maupun sepi-beramal tanpa mengharapkan pujian manusia. [Chairunnisa Dhiee]

Sumber buku " Ikhlas Tanpa Batas"

Komentar

Embed Widget
x