Find and Follow Us

Minggu, 21 April 2019 | 11:54 WIB

Kisah Pangeran Dermawan dan Janda Fakir

Minggu, 16 Desember 2018 | 09:00 WIB
Kisah Pangeran Dermawan dan Janda Fakir
(Foto: ilustrasi)

PERNAH suatu ketika, Emir Hasan, seorang pangeran di Aljazair memerintahkan seluruh rakyatnya untuk tidak menyalakan perapian, lentera, atau bentuk pencahayaan lainnya selama satu malam. Para penduduk pun mematuhi perintah sang pangeran, sehingga pada malam tersebut daerah kekuasaan Emir Hasan gelap dan hanya diterangi oleh cahaya bulan.

Namun, di salah satu sudut daerahnya, Emir Hasan mendapati cahaya temaram dari sebuah rumah. Ia marah dan heran ketika itu, karena rakyat tersebut tidak mau menuruti perintahnya. Emir Hasan mengajak pengawalnya untuk mengunjungi rumah tersebut dengan menyamar. Karena itu ia segera bersiap dengan mengenakan baju khas musafir.

Pangeran yang tengah menyamar tersebut berjalan menyusuri jalan-jalan desa menuju sebuah rumah di mana masih terdapat cahaya yang menyala. Sesampainya di sana, ia segera mengetuk pintu agar si tuan rumah keluar. Kemudian, seorang perempuan tua muncul dari balik pintu.

Wanita si pemilik rumah menggeleng kepala dan berkata, "Wahai musafir, bukannya aku tak mau menerimamu di sini. Tetapi aku memiliki kondisi kekurangan." Tentu saja si tuan rumah tidak tahu bahwa seseorang yang di depannya adalah Emir Hasan.

"Aku dan kawanku sudah kemalaman. Izinkanlah kami menginap di sini meskipun hanya semalam. Kami akan pergi sebelum Subuh dan melanjutkan perjalanan." Emir Hasan memohon.

"Kalau begitu terserah kau saja. Masuklah," jawab si tuan rumah.

"Terima kasih."

Sang pangeran lalu masuk ke dalam rumah. Namun, apa yang dilihatnya membuat sungguh terkejut. Hampir tidak ada perabotan di ruangan tersebut. Ia hanya melihat selembar selimut tipis yang menjadi alas tidur untuk empat orang bocah.

Perempuan tersebut lalu berkata, "Aku adalah janda dengan empat orang putra. Malam ini sebenarnya pangeran menyuruh para penduduk untuk memadamkan pencahayaan. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Setidaknya perapian ini bisa membuat anak-anakku yang tengah kelaparan sedikit hangat."

Si tuan rumah tidak berbohong. Emir Hasan dengan kedua matanya sendiri bahwa keempat bocah di sana sedang menangis sambil memegangi perut. "Sudah berapa lama mereka seperti ini?"

"Empat hari, Tuan."

Emir Hasan masih terperangah melihat kondisi tersebut. Ia baru mengetahui bahwa salah satu rakyatnya ada yang hidup dalam situasai sangat memprihatinkan. Keesokan paginya menjelang Subuh, sang pangeran segera berpamitan pergi dan diam-diam pulang ke istana.

Sesampainya di sana ia meminta perdana menteri memberikan berkantung-kantung gandum dan pakaian untuk wanita tersebut dan keempat orang putranya. Ia juga berpesan agar tidak perlu mengatakan bahwa ini adalah bingkisan darinya.

Perempuan tua tersebut menerima bingkisan dari perdana menteri dengan terheran-heran. Ia segera mengucap syukur dan berdoa untuk sang darmawan yang tanpa ia tahu adalah Pangeran Emir Hasan. [An Nisaa Gettar]

Komentar

x