Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 17 Desember 2018 | 00:15 WIB

Berbekallah untuk Perjalananmu

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi | Rabu, 5 Desember 2018 | 00:03 WIB

Berita Terkait

Berbekallah untuk Perjalananmu
(Foto: Ilustrasi)

KALIMA judul di atas biasa kita dengar dari orang-orang tua kita saat kita akan melakukan perjalanan jauh. Perjalanan jauh itu membutuhkan bekal atau sangu yang memungkinkan kita sampai tujuan dengan tenang. Lebih dari itu, ada banyak kemungkinan terjadi di tengah jalan yang harus diselesaikan dengan menggunakan bekal itu.

Manusia itu sejak lahir sesungguhnya sudah terhitung melakukan perjalanan panjang menuju kematiannya. Setiap detik, jam dan hari yang dilaluinya sebenarnya adalah runtuhnya umur perjalanannya.

Anehnya justru manusia tak pernah sedih memikirkan hari yang hilang dan bahkan terus saja berbahagia menikmati hari yang baru tanpa adanya muhasabah. Sudahkah memiliki bekal cukup untuk perjalanan menuju kematian?

Kasihan sekali pada para musafir yang mati tanpa membawa bekal. Terdampar dan terlempar begitu saja tanpa ada yang peduli. Bahagianya para musafir yang berbekal cukup. Kalaupun harus mati, ada tempat yang layak dan ada yang mengurus dengan layak. Kasihan bagi mereka yang yakin hendak mati dan pindah tempat ke alam kubur, namun ternyata tak siap bekal untuk memperindah kehidupannya di alam kubur kelak.

Ada enam bekal utama yang perlu dibawa dalam perjalanan menuju Allah melalui pintu kematian itu: pertama adalah iman dan tawhid. Manisnya iman dan lezatnya tawhid adalah bekal yang paling fundamental bagi para pejalan menuju Allah. Sungguh hidup menjadi indah dengan iman dan tawhid. Tanpa iman dan tawhid, hidup akan hambar dan membuang-buang waktu sia-sia saja. Bagaimana tak hambar dan sia-sia kalau semuanya akhirnya bernilai 0 (nol)?

Ada sekelompok orang yang sungguh telah beriman dan bertauhid dengan baik dan benar. Mereka menikmati jalan hidup dengan kebahagiaan dan keceriaan meski harus melalui banyak ujian dan rintangan. Mereka berkata: "Andai saja para raja dan keluarganya yang berburu kesenangan dan kebahagiaan itu tahu bahwa kita jauh lebih bahagia ketimbang mereka, maka mereka pasti akan memerangi kita untuk merebut kebahagiaan kita ini." Kebahagiaan iman dan tawhid adalah melampaui kesenangan dan kebahagiaan jabatan atau kekuasaan. Salam, AIM. [*]

Komentar

Embed Widget
x