Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 17 Desember 2018 | 00:41 WIB

Nikmat: Rezeki ataukah Istidraj?

Oleh : Quraniy | Selasa, 27 November 2018 | 02:02 WIB

Berita Terkait

Nikmat: Rezeki ataukah Istidraj?
(Foto: Ilustrasi)

"TATKALA mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS. Al-Anam: 44).

Hakikat rezeki adalah segala yang kita miliki yang mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu Wataala. Kita gunakan kesempatan, waktu, kemampuan dan materi yang ada dalam usaha menegakkan syariat Allah pada diri sendiri, keluarga dan lingkungan. Gawai, kendaraan, pengetahuan, kepiawaian, dan lain-lain yang kita miliki kita gunakan dalam rangka beribadah kepada Allah. Seperti mencari nafkah yang halal, membantu atau menolong orang lain dalam hal ketakwaaan, dan lain-lain.

Sedangkan apabila harta dan hal lain yang kita miliki malah tidak mendekatkan kita kepada Allah, padahal kita memperolehnya dengan tidak susah payah, maka waspadalah. Bila dengan mudahnya kendaraan yang kita miliki kita gunakan menuju tempat maksiat atau justru dipakai untuk bermaksiat, jika tak ada hambatan kemampuan yang kita miliki kita gunakan untuk menolong orang lain dalam melakukan kejahatan dan dosa, waspadalah.

Orang yang suka bermaksiat, berbuat dosa pada Allah, juga kepada sesama manusia, namun ia dimudahkan Allah dalam menguasai materi atau harta, tak ayal lagi, harta yang ia miliki adalah istidraj baginya. Allah telah memperingatkan ia, namun ia tak juga berpaling. Lalu Allah menakdirkan baginya kemudahan-kemudahan di dunia. Tentu ia pun menyangka bahwa ia mendapat barakah dan rahmat Allah atas berbagai kemudahan tersebut.

Istidraj dapat diartikan sebagai suatu jebakan berupa kelapangan rezeki padahal yang diberi dalam keadaan terus menerus bermaksiat pada Allah. Hadits dari Uqbah bin Amir radliyallahu anhu, menyebutkan bawah Nabi Muhammad shalallaahu alaihi wasallam bersabda, "Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah." (HR. Ahmad 4: 145. Syaikh Syuaib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits inihasandilihat dari jalur lain).

Berkaitan firman Allah dalam QS. Al Anam ayat 44, Syaikh Abdurrahman as Sadi menyebutkan dalam tafsirnya, "Ketika mereka melupakan peringatan Allah yang diberikan pada mereka, maka dibukakanlah berbagi pintu dunia dan kelezatannya, mereka pun lalai. Sampai mereka bergembira dengan apa yang diberikan pada mereka, akhirnya Allah menyiksa mereka dengan tiba-tiba. Mereka pun berputus asa dari berbagai kebaikan. Seperti itu lebih berat siksanya. Mereka terbuai, lalai, dan tenang dengan keadaan dunia mereka. Namun itu sebenarnya lebih berat hukumannya dan jadi musibah yang besar".

Sedangkan Tafsir Jalalain menyebutkan, "Ketika mereka meninggalkan peringatan yang diberikan pada mereka, tidak mau mengindahkan peringatan tersebut, Allah buka pada mereka segala pintu nikmat sebagai bentuk istidraj pada mereka. Sampai mereka berbangga akan hal itu dengan sombongnya. Kemudian kami siksa mereka dengan tiba-tiba. Lantas mereka pun terdiam dari segala kebaikan".

Semoga Allah anugerahkan ketakwaan kepada kita semua. Semoga apa pun yang kita miliki adalah rezeki yang berkah yang dapat mendekatkan kita kepada ketaatan pada Allah. [*]

Komentar

Embed Widget
x