Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 17 Desember 2018 | 01:08 WIB

Wanita Berzina Menikahi Pria yang Menzinahi

Senin, 19 November 2018 | 16:00 WIB

Berita Terkait

Wanita Berzina Menikahi Pria yang Menzinahi
(Foto: ilustrasi)

SEJUMLAH sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah memfatwakan membolehkan pernikahan seorang lelaki dengan wanita yang dizinahinya, bahkan terlibat langsung dalam proses menikahkan.

Diriwayatkan bahwa Abubakar As-Shiddiq telah menikahkan seorang lelaki dengan gadis yang direnggut keperawanannya oleh lelaki tersebut. Al-Baihaqi meriwayatkan;

"Dari Abu Bakar As-Shiddiq tentang seorang lelaki yang memecahkan keperawanan seorang wanita, kemudian mereka mengaku, maka Abubakar mencambuk keduanya masing-masing seratus kali, lalu menikahkan keduanya dan mengasingkan mereka selama satu tahun" (HR Baihaqi)

Diriwayatkan pula bahwa Umar memerintahkan menikahkan dengan normal seorang wanita yang telah berzina kemudian bertobat dengan baik. Al-Baihaqi meriwayatkan;

"Dari As-Syabi, bahwasanya ada seorang gadis yang berzina kemudian dihukum, lalu mereka (keluarganya) berpindah, lalu gadis itu bertaubat dan bagus taubatnya serta keadaannya. Lalu dia dipinang melalui pamannya, maka pamannya merasa tidak enak menikahkannya sebelum memberitahu reputasinya, namun juga tidak suka menyebarkan hal tersebut. Maka peristiwa itu dilaporkan kepada Umar bin Khattab, maka Umar berkata; Nikahkanlah gadis itu sebagaimana kalian menikahkan gadis-gadis Shalihah kalian" (HR Al-Baihaqi)

Malah, keinginan umar adalah wanita yang berzina hendaknya dinikahi oleh lelaki yang menzinahinya, meskipun tidak wajib/harus demikian. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan;

"Dari Ubaidullah bin Abi Yazid dari ayahnya, bahwasanya Siba bin Tsabit menikahi putri Robah bin Wahb, dan dia punya putra yang didapat dari istri yang lain, sementara istrinya juga punya putri yag didapatkan dari suaminya terdahulu. Maka putranya berzina dengan putri istrinya, dan putri istrinya hamil. Maka keduanya dilaporkan kepada Umar bin Khattab dan keduanya mengaku. Maka umar mencambuk keduanya dan sangat ingin menikahkan mereka. Namun pihak lelaki menolak." (HR Ibnu Abi Syaibah)

Ibnu Abbas juga memfatwakan dengan fatwa yang senada. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan;

"Dari Ibnu Abbas tentang seorang lelaki dan wanita yang berzina lalu keduanya dihukum, kemudian pihak lelaki ingin menikahi wanita itu. Ibnu Abbas berfatwa; Tidak apa-apa. Awalnya Sifah (zina), akirnya nikah." (HR Ibnu Abi Syaibah)

Ikrimah mengumpamakan pernikahan seorang lelaki dengan wanita yang dizinahinya seperti orang yang mencuri kurma, lalu setelah itu membelinya. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan;

"Dari Ikrimah beliau berkata: "Tidak masalah, itu seperti seorang lelaki yang mencuri kurma kemudian membelinya" (HR Ibnu Abi Syaibah)

Sejumlah Tabiin besar seperti Said bin Jubair, Al-Qomah, dan Umar bin Abdul Aziz juga berfatwa senada. Semuanya mendukung penjelasan hukum bahwa pernikahan lelaki dengan wanita yang dizinahinya adalah sah, bahkan bisa dikatakan termasuk cara taubat dari perzinahan tersebut.

Memang ada riwayat dari Ibnu Masud, Aisyah, Jabir bin Zaid dan Al-Baro yang menunjukkan mereka berfatwa tidak bolehnya dua orang yang berzina menikah sebelum taubat, misalnya riwayat berikut;

Dari Ibnu Masud dan Aisyah mereka berkata: "mereka (dua orang yang berzina) masih terus berzina selama berkumpul (HR At Thobaroni)

"Dari Al-Baro tentang seorang lelaki yang berzina dengan seorang wanita kemudian menikahinya beliau berkata; mereka terus berzina selamanya" (HR Ibnu Abi Syaibah)

Namun ini hanya berlaku jika mereka belum bartaubat. Jika sudah bertaubat maka tidak ada masalah lagi. Lagipula ucapan selain Alquran dan Hadis bukan dalil, sehingga tidak bisa menjadi dasar keharaman sesuatu. Imam As-Syafii mengkritik fatwa ini sebagaimana diriwayatkan Baihaqi;

As-SyafiI berkata; kami dan mereka tidak berpendapat seperti ini (pendapat yang mengharamkan dua orang yang berzina menikah). (pendapat kami adalah) Mereka berdua berdosa saat berzina namun halal saat menikah dan bukan berzina lagi. Umar dan Ibnu Abbas berpendapat semakna dengan ini (HR Baihaqi) [Muhammad Muafa]

Komentar

Embed Widget
x