Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 14 November 2018 | 22:50 WIB

Perjanjian dengan Allah (Bag. 2)

Jumat, 2 November 2018 | 10:00 WIB

Berita Terkait

Perjanjian dengan Allah (Bag. 2)
(Foto: ilustrasi)

PADA hakikatnya, jika kita semua mengingat perjanjian yang pernah kita ikrarkan dan sepakati dengan Allah ketika berada di dalam rahim, sebagaimana disebut oleh ayat di atas, maka perjalanan hidup kita akan senantiasa berada di jalan yang benar dan diridai Allah. Tetapi jika kita melupakannya, maka sangat mungkin perjalanan hidup kita akan melenceng jauh dari jalan kebenaran.

Janji dengan Tuhan adalah janji tauhid, janji untuk terus mengesakan-Nya, janji untuk selalu berada di jalan-Nya. Jika janji tersebut kita pegang teguh, maka Tuhan pun akan terus menuntun kita tetap berada di jalan-Nya. Tetapi jika kita mengingkarinya, maka Dia pun akan memalingkan wajah-Nya dari kita.

Tuhan sesuai dengan persangkaan kita kepada-Nya. Jika kita mengingat-Nya dalam diri kita, maka Dia pun akan mengingat kita dalam diri-Nya. Demikian disebutkan dalam sebuah hadis qudsi.

Betapa banyak di antara kita, atau mungkin diri kita sendiri yang sering melupakan Tuhan. Tuhan hanya kita tempatkan di masjid, musala, temppat-tempat ibadah, majelis taklim serta majelis zikir. Sedangkan ketika kita di kantor, di pasar, di tempat kerja, di jalan, di tempat-tempat umum, kita tinggalkan Tuhan, kita tidak sertakan Dia dalam aktivitas keseharian kita.

Dengan demikian, maka yang terjadi adalah munculnya manusia-manusia dengan kepribadian ganda. Di satu sisi mereka kelihatan khusuk ketika beribadah, tekun mendengar ceramah-ceramah keagamaan, rajin mengikuti majelis taklim dan majelis zikir, tetapi di sisi lain, mereka juga gemar melakukan kejahatan; korupsi, kolusi, penyalahgunaan wewenang dan jabatan, curang dalam berdagang, dan sederet tindak kejahatan lainnya. Perilaku mereka sehari-hari sering kali tidak mencerminkan ibadah yang mereka lakukan. Mereka tidak risih dan tanpa malu lagi melakuken perselingkuhan, perzinaan, penganiayaan, bahkan pembunuhan.

Inilah bukti nyata bahwa manusia sering melupakan Tuhan, melalaikan janji sucinya dengan Tuhan untuk menjadi hamba-Nya yang saleh, yang penuh ketaatan kepada-Nya dan kasih sayang terhadap sesamanya. [Didi Junaedi]/selesai.

Komentar

Embed Widget
x