Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 14 November 2018 | 22:13 WIB

Perjanjian dengan Allah (Bag. 1)

Jumat, 2 November 2018 | 08:00 WIB

Berita Terkait

Perjanjian dengan Allah (Bag. 1)
(Foto: ilustrasi)

"DAN (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): 'Bukankah aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: 'Betul (Engkau Tuhan Kami), Kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: 'Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)." (QS. Al-A'raf [7]: 172)

Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat ini mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan dalam sahihain (Bukhari dan Muslim) yang menyatakan, "Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah (suci), yakni beragama (Islam), maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi".

Lebih lanjut, Ibnu Katsir menegaskan bahwa melalui ayat ini, Allah Swt menginformasikan kepada setiap manusia, bahwa ketika mereka masih berada di alam roh (rahim), Allah telah mengikat mereka dengan sebuah persaksian bahwa Allah adalah Tuhan mereka, tidak ada Tuhan selain Dia. Hal ini dimaksudkan agar kelak manusia tidak mengatakan bahwa mereka lalai akan hal ini (persaksian).

Ironisnya, ketika kelak manusia sudah lahir ke muka bumi, kemudian ia bertumbuh dari kanak-kanan menjadi remaja kemudian dewasa sampai akhirnya meninggal dunia, banyak di antara mereka yang justru melupakan perjanjian tersebut.

Perjalanan hidup anak manusia diwarnai dengan beragam peristiwa, baik yang menghadirkan suka maupun yang meninggalkan duka. Warna-warni kehidupan tersebut pada gilirannya akan membentuk pribadi setiap manusia.

Ada orang yang sebagian besar hidupnya diwarnai penderitaan dan kekecewaan, tetapi justru semakin mendekatkan dirinya kepada Allah. Hingga akhirnya Allah pun melimpahkan karunia berupa kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Di sisi lain, ada pula orang yang sebagian besar hidupnya diliputi kesenangan, kelimpahan materi, tetapi justru menjauhkan dirinya dari Allah, hingga pada akhirnya berujung dengan dihilangkannya segala kenikmatan dan kesenangan hidup yang pernah dialaminya. [Didi Junaedi]/bersambung...

Komentar

Embed Widget
x